Rabu, 28 Maret 2012

Njogja Tenan #2 - habis [60 Foto]

"Menuju Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat"

"Semakin Dekat"

Minggu, 25 Maret 2012

Ingin Tinggal di Jogja #1 [Puluhan Foto]

Aku tak akan berkata banyak...karena Foto2 di bawah ini, sudah mewakili apa yang akan kusampaikan...
Mulai dari hotel tempat menginap [kali ini gak numpang di kosan temen yang kuliah di Jogja, hehe :) ] sampai tempat wisata dan yang aku temui selama di kota Jogja, salah satu kota untuk penempatan kerja kelak :)
Amin,,,,
ini bukan di Bali, Ini di Jogja, hanya gaya bangunannya saja
ini penginapan di gang Sosrokusuman [kalo gak salah inget], sebelah timur Jl.Malioboro
kamar bisa diisi 2 orang, 3 orang, sampai tak terbatas [asal gak ketahuan]
tarif mulai 50ribuan perkamar
Ada lagi di sebelah barat Jl.Malioboro, tapi penginapan deretan situ lebih mahal [terlihat bangunannya yang lebih bagus, Red]
kamarnya seeprti ini, itu Geza namanya, sedangkan yang ada di sampingnnya adalah tempat tidur.

Keren, ini ada di setiap gang sekitar Jl.Malioboro

Teman

Sabtu, 10 Maret 2012

Cerita di KRL Ekonomi, Serasa Menaklukkan Jakarta


Hari ini, Sabtu, 10 Maret 2012, jam 12 siang, aku telah melakukan kesalahan yang lucu. Dengan langkah kaki yang tergesa membabi buta, aku menuju loket kereta api listrik Tanah Abang. Terdengar suara karyawan stasiun yang menginformasikan bahwa di jalur 6 sudah siap krl dengan tujuan Serpong, Banten. Semakin aku tambah derapan langkah kaki. Aku keluarkan Rp 6.000,-  kepada petugas loket.

“Pondok Ranji, satu,” kataku.

Sambil memberikan karcis, dikembalikan pula uang seribuan oleh petugas loket. Aku bingung, apakah harga karcis Krl AC telah turun di angka Rp 5.000,- ? Entahlah. Aku segera melangkah jauh tanpa berfikir panjang. Pertanyaan tadi baru terjawab ketika aku menemui kalau Krl yang akan berangkat adalah Krl Ekonomi seharga Rp 1.500,-. Oh, betapa cerobohnya. Uang sebesar Rp4.500,- melayang. Aku salah beli karcis. Menyesal pasti. Untuk ukuran mahasiswa sepertiku, uang Rp4.500,- sangatlah berarti. Bisa untuk sekali makan di warteg ataupun di warsun (warung sunda).

Aku ikhlaskan saja. Jika uang Rp 4.500 tadi masuk kantong petugas loket, aku ikhlaskan. Jika uang itu masuk kas PT KAI dan diserahkan ke pemerintah, aku ikhlaskan pula. Aku pun masuk. Jangan ditanya duduk apa berdiri. orang sepertiku ini, yang Alhamdulillah masih diberi kekuatan dan kesehatan, lebih memilih berdiri tegak menantang daripada duduk dengan kenyamanan.Orang yang lebih tua, wanita hamil, wanita menggendong anak sambil berdiri adalah beberapa obyek yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. 

Aku berdiri di dekat pintu krl ekonomi yang tidak bisa menutup (memang tidak ada pintunya, hanya “lobang” besar untuk masuk-keluar penumpang). Kereta pun berjalan dan aku masih berdiri di situ. Sedikit aku robohkan badan ini ke badan gerbong  untuk bersandar  dengan kaki yang membuka lebar supaya lebih kuat menahan tubuh. Tidak berpegangan apa-apa. Aku menikmatinya.

Bergelantungan di pintu krl ekonomi sepanjang Tanah Abang-Pondok Ranji serasa telah menaklukkan Jakarta. Angin dan gerimis menerjang wajahku dengan malu-malu. Mataku melihat ke luar, rumah kumuh sepanjang rel, gedung tinggi dengan sombongnya berdiri di belakang rumah kumuh itu, kehidupan di balik pos jaga palang kereta, antrian mobil yang sabar memberikan krl ruang, lapangan bola yang memaksa “bertahan” di tengah keterbatasan space. Sedangkan telinga kananku mendengar pedagang keliling menawarkan dagangannya, pemusik bernyanyi dengan suara yang hampir habis, seretan sapu anak kecil yang mencoba mengais receh dari menyapu lantai gerbong, bapak dengan mata satu yang menenteng gitar dan bungkus permen kopiko, wanita bawel yang menawar gila sebuah barang sesuka hatinya. Krd dan Krl ekonomi adalah pasar bergerak.