Selasa, 29 Oktober 2013

::: Bagian 2 - Syarat Al-Fatihah.....


Yang ke-6. Tidak boleh ada Niat untuk Jeda, meskipun jeda itu sebentar.
"Meskipun sebentar Mas Don?" Iya, karena di sini ada Niat untuk jeda itu sendiri Den Bagus, entah di antara Ayat, atau di tempat yang lain.
Jika ada niat seperti itu, maka Al-Fatihah diulang, bukan takbirotul ikhromnya yang diulang.

Yang ke-7. Membaca Seluruh Ayat yang ada di Al-Fatihah. Termasuk Basmallah.
Bukan Basmallah dalam hati lho ya, tapi Basmallahnya ya dibaca.
Banyak Hadist yang meriwayatkan Rosululloh membaca Basmallah.
"Jika tidak Mas Don?"
Lha yo Embuh, Paling cuma ikut - ikutan biar dikatakan 'sok beda' 'sok ngerti agama dan hadist' padahal keblinger.
Dasarnya gak tahu. Dasarnya darimana gak jelas. Akan ditanya kelak di Akhirat.

Sepuluh Syarat Al-Fatihah Part#1


Yang Pertama, harus Tertib.
“Saya tahu Mas Don kalau itu. Harus urut kan ya. Tidak boleh ayat pertama lalu ayat ketiga, balik ke ayat kedua”
Ya Den Bagus, sampean sudah tahu lah kalau itu.

Yang Kedua, Antar Ayat Tidak Boleh Ada Jeda.
Jangan sampai antar ayat ada yang memisahkan. Al-Fatihah harus dibaca satu kesatuan. Tidak boleh jeda di tengahnya.
“Kalau jama’ah samping kita ada yang bersin Mas Don? Kan sunnahnya berkata ‘Yarkhamukalloh’ ”
Jika dalam sholat, tidak usah berkata ‘Yarkhamukalloh’ jika ada yang bersin. Lanjutkan Al-Fatihahmu.

Jika kau terlanjur mengatakan ‘Yarkhamukalloh’ maka Al-Fatihahmu harus diulang. Bukan Takbirotul Ikhrommu yang diulang, cukup Al-Fatihahmu.

Yang ketiga...
Ayo Semuanya lihat Surat Al- Fatihahnya di Al-Qur’annya masing – masing. Ada berapa Huruf di Al-Fatihah? Hitung sekarang,
“Ada 138 Huruf Mas Don”. Ya, benar.
Syarat yang ketiga adalah Menjaga Huruf di surat Al-Fatihah. Jangan sampai ada 1 huruf yang hilang, tidak dibaca, jangan sampai ada 1 huruf yang lepas, tidak dibaca. 1 huruf saja hilang/lepas, sholatmu batal.
“Inshaa Alloh saya bisa Mas Don kalau yang ini”
“Kalau menambah – nambahi?” Apalagi itu. Tidak boleh.

Sabtu, 12 Oktober 2013

“Jika Air Kencing (masih) Keluar Ketika Sholat”


Jika air kencing kita masih keluar ketika sholat, meski setetes, meski dua tetes, itu berarti ketika kencing sebelum sholat, belum keluar semuanya. Belum ‘tertutup’ sempurna. Masih ada sisa.
Jika masih keluar ketika sholat, maka sholat kita batal. Tidak sah sholat kita jika kita teruskan.
Selain itu, celana dalam juga terkena najis. Jika sudah begitu, maka ya ganti celana dalam, wudlu lagi. Sholat lagi.
Air kencing (manusia) itu najis, dan wajib mensucikan tempat yang mengenainya baik itu badan, pakaian, wadah, tanah, atau selainnya.

“Cara mengeluarkan semuanya bagaimana Mas Don?”
Wah, kalau semuanya keluar ya gak bisa Den Bagus, pasti masih ada sisa di Kantung Kemih. Yang kita keluarkan yang ada di salurannya itu Den Bagus, di saluran kelamin itu, harus dikeluarkan semua tanpa ada sisa.

“Lha terus bagaimana?”
Caranya seperti ini,
Pertama, setelah kencing (biasanya laki – laki berdiri, sebaiknya jongkok seperti perempuan,

“Rumah Tangga dalam Satu Akidah, dalam Satu Perahu”


Akidah itu keyakinan, bukan perbuatan. Seperti akidah adanya Allah dan diutusnya para Rosul. Ketetapan Alloh, SIFAT - SIFAT Alloh, Nama – nama Alloh. Perintah, anjuran, ancaman, larangan, janji, prediksi. Yang tidak terpanca Indera yaitu: pahala, dosa, surga, neraka, adanya Alloh, malaikat, Jin, adanya alam kubur, adanya kiamat, masa kebangkitan dan alam akhirat. Kesemuanya itu adalah akidah.

Kenapa Rumah Tangga harus satu Akidah? Untuk kesatuan ajaran dalam satu rumah tangga dan untuk energi dalam mengarungi kehidupan rumah tangga #Tsah.
Contoh sederhana, Akidah Ahlusunnah Wal Jama’ah (Aswaja) tentang Alloh tanpa tempat dan tanpa Arah (Lihat postingan “Mamen, Alloh tidak Ada di Langit, Ouh - Yeah”).
“Apakah Ahlusunna Wal Jama’ah itu Sunni Mas Don?” Iya, itu sebutan lain.
Ahlusunnah wal jama’ah itu meliputi pengikut Madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Sedangkan di luar itu, bukan ahlusunnah wal jama’ah.

“Di Luar itu apa mas Don?” Lha yo embuh, masa kejawen?
Itu tadi salah satu akidah aswaja Den Bagus.
Sedangkan akidah yang dipegang Wahabi, Alloh ada di Langit. Itu salah satu contoh perbedaan akidah. Jika kau seorang Ahlusunnah wal jama’ah, maka janganlah menikah dengan orang Wahabi.

Senin, 16 September 2013

Sejarah & Filosofi KENTONGAN dan BEDUG Mushola – Masjid


Pada jaman dahulu kala, hehe, masih belum ada listrik ketika Islam masuk ke Jawa. Begitu juga ketika Islam masuk ke Indonesia pada umumnya. Saat itu, adzan dikumandangkan tidak memakai mikrofon/mic. Melainkan diserukan secara ‘manual’. Karena seruan muadzin ini tidak bisa menjangkau seluruh desa, katakanlah begitu, maka dibuatlah ‘alat pemanggil’ untuk datang ke mushola / masjid sebelum adzan dikumandangkan.

Jika kita orang desa, pastilah kita tahu tentang yang namanya Kentongan. Digunakan oleh orang – orang desa dalam berkomunikasi dengan cepat kepada seluruh warga desa. Kebiasaan ini sudah lama ada, sebelum islam masuk ke Indonesia. Ada aturannya, tidak asal pukul. Masih ingat gak?

ORANG DESA MANA SUARANYA ? Hehe...
Setiap daerah punya aturan sendiri – sendiri. Jika di Desa saya,
3 Pukulan, jeda, lalu 3 pukulan lagi, selama beberapa menit, berarti ada kematian, baik kematian karena ada pembunuhan, atau sakit.
4 Pukulan, jeda, lalu 4 Pukulan, itu berarti ada Maling.
1 Pukulan terus menyambung dan cepat, itu berarti ada kebakaran, banjir, atau bencana.
Masih ingat gak? Haha....
“Wah, sudah lupa Mas Don, itu jaman kapan, haha”

Nah, kentongan ini kemudian ‘dicopy’ oleh mushola dan masjid. Untuk membedakannya dengan tanda kematian, bencana, maka kentongan ini ‘Dipasangkan’ dengan Bedug.
Suara kentongan dan bedung ini menggelegar sampai ke ujung Dusun. Sampai ke tetangga desa. Bahkan sampai berkilo – kilo meter juga ada. Jadilah, kentongan dan bedug sebelum adzan.

Jumat, 30 Agustus 2013

MAMEN,,,,Alloh TIDAK ada di LANGIT Mamen.... Ouh – Yeaahh...


Kalau Alloh ada di Langit, kenapa Alloh harus ‘Repot-repot Menemui’ Nabi Musa di sekitar atas gunung Thursina?
Mamen, Aqidah Rasulullah, para sahabatnya, para ulama salaf saleh (Al-Ghozali ke Atas), dan aqidah mayoritas umat Islam, Ahlussunnah Wal Jama’ah ialah bahwa Allah ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah. ‘Ora Arah Ora Enggon’
Note: Salaf bukan Salafi, keduanya beda. Kita bahas lain waktu.

Padahal, telah ditetapkan bahwa Allah bukan benda, Dia tidak membutuhkan tempat dan arah. Dia Ada tanpa permulaan, tanpa arah dan tanpa tempat.
“Mamen Mas Don, di Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, Arti dari ayat itu semuanya:“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” Ada juga yang mengartikan itu “Dia Bersemayam di atas ‘Arsy nya”
Mamen Mas Don, bagaimana itu?”
Buset, sampean sampai hafal surat-suratnya.

Begini Mamen,
Penerjemahan “Bersemayam” perlu di tinjau ulang, karena bersemayam berarti duduk, tinggal, berkediaman. Padahal artinya bukanlah ini.
Bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk.
Sebab Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa persis dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). 

Sabtu, 24 Agustus 2013

23 VS 11, Mana yang Tanpa Dasar


Ada yang berkata, Sholat Traweh dan witir 23 atau 11 Roka’at sama saja. Itu SALAH.
Sesungguhnya itu berbeda. Anak kecil akan berkata rokaatnya saja sudah berbeda. Anak besar akan berkata dasarnya beda. 
Saya Inshaa Alloh seorang Syafi’iyyah. Madzhab Syafi’i adalah 20 Roka’at dengan 1 salam setiap 2 Roka’at.
Ketika masa Khulafaur Rosyidin, masa Umar r.a ( cek lagi, ingatan saya masih rancu antara masa Umar r.a dan Ustman r.a, karena sama – sama berawalan “U”). 
Pada masa Umar r.a, Sholat Traweh adalah 20 roka’at.
Dan ada Hadist : “Berpegangteguhlah kepada sunahku dan sunah Khulafaur Rosyidin yang diberi petunjuk” (HR. Abu Dawud)

Praktek yang dilakukan Khulafaur Rosyidin pasti mempunyai dasar yang kebenarannya dijamin oleh Rosul. Mereka hidup di jaman Rosul. Dan sebaik – baiknya masa islam adalah masa ketika Rosul hidup.
Waktu sholat traweh setelah Isha, jadi sudah terhitung Sholat Malam.

“Kalau ada yang Traweh 8 Roka’at Mas Don?” 
Oh, itu, mereka mengacu pada hadist ini, tapi salah menafsirkan,
Dari Aisyah r.a: “Pada Bulan Romadhon dan selain bulan Romadhon, Nabi SAW Sholat Malam tidak lebih dari 11 Roka’at”
Lihat, jika mereka traweh dan witir 11 Roka’at di bulan Romadhon, kenapa di luar bulan Romadhon tidak traweh dan witir sekalian? Nah lho.

Jadi, maksud hadist ini, Sholat malam yang dimaksud adalah Sholat Witir Den Bagus. Sholat Witir itu paling banyak dilakukan 11 Roka’at. Coba, sholat malam apa yang jumlahnya ganjil kalau tidak witir? Tahajud? Genap. Traweh? Genap pula, 2 - 2. Jadi sholat malam yang dimaksud dalam hadist itu adalah sholat witir. 

Yang Salah Bukan Imam yang Membaca Cepat Al Fatihah ketika Traweh 20 Roka'at, TAPI ....


Dulu, ada beberapa orang yang berkata traweh 8 roka'at memakai surat yang panjang lebih baik daripada sholat traweh 20 roka'at cepat. 
Dulu, ada yang berkata, tidak sah traweh 20 roka'at dengan cepat.
Dulu ada yang menuduh tidak khusuk. Tergesa gesa. 

Den Bagus, sampean pernah Mengecek Hafalan seorang Hafidz Qur'an?
"Pernah Mas Don, saya mengeceknya pakai Al Qur'an karena saya belu hafidz. Bagaimana dia melafaldkan hafalannya? 
"Cepat Mas Don, saya kedandapan, kelabakan, ketinggalan, tidak nuntut meskipun saya mengecek dengan Al Qur'an. Cepat".
Apakah ada yang keliru sejauh mata sampean memandang? 
"Waktu itu tidak ada. Hanya saja, dia cepat. 

Kira kira, jika seorang hafidz, mengecek hafalan temannya yang seorang hafidz pula dengan melafaldkan cepat, kira kira apakah dia kelabakan seperti sampean?
"Tidak, pasti itu akan mudah jika sesama hafidz"
Nah, itu dia.
Apakah kira-kira 1 ketukan setiap orang itu sama Den Bagus dalam Membaca Al Qur'an, dalam ilmu tajwid? 
"Pasti beda mas don"

3 Roka’at Witir itu JAUH BEDA dengan 3 Roka’at Magrib

Sholat witir itu boleh 1 Roka’at. Hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, di mana Nabi SAW Bersabda, “Sholat witir adalah satu roka’at di sebagian akhir malam” (HR. Muslim).

Sholat witir 3 Roka’at dengan cara dua roka’at sholat kemudian salam, lalu mengerjakan 1 roka’at lagi dengan salam lagi.

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW memisahkan antara 2 roka’at dan satu roka’at 
(Hr. Bukhori dan Malik)
Waktu Sholat Witir itu setelah sholat Isya’ hingga munculnya fajar.

Tidak diperbolehkan mengerjakan sholat witir 2 roka’at dengan dua tasyahud dan sekali salam yang menyerupai sholat Magrib.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, 
“Janganlah berwitir dengan 3 roka’at, berwitirlah dengan 5 roka’at atau tujuh roka’at, dan janganlah kamu menyerupakan dengan sholat Magrib”

Hadist di atas yang tidak memperbolehkan berwitir dengan 3 roka’at maksudnya adalah tidak boleh berwitir menyerupai sholat magrib.

Senin, 01 April 2013

Buku USM STAN 2013


(Klik kanan, buka gambar)



Buku persiapan USM STAN 2013 dan persiapan Ujian2 lainnya...
(Materinya bisa untuk persiapan SNMPTN, dll)

Konten : 
Soal dan Bahas USM STAN 2008 - 2011
(notes : 2012 STAN tidak membuka pendaftaran, jadi tidak ada Soal dan Bahas USM STAN 2012)
Soal dan Bahas D1 Bea CUkai
Prediksi Soal USM STAN 2013
Soal Mandiri Paket 1 & 2
Tips dan Trik SUkses USM STAN
Tips dan Trik Seleksi Administrasi
Info Tes Kesehatan & Kebugaran
Info Assesmentr Test
Info Umum Kampus STAN
Syarat Pendaftaran
Tata Cara Pendaftaran
Motivasi - Motivasi

Tes Potensi Akademik | Tes Bahasa Inggris

Melayani pembelian dan pengiriman ke Seluruh wilayah di Indonesia
Cp : 085 7363 269 88

Kamis, 24 Januari 2013

Alasanku kenapa Memakai 2 Lapis Pakaian ketika Sholat




Masih ingat dengan tulisanku yang berjudul “Astaghfirulloh, Istriku Bermukena 2 Potong ketika Sholat”? Jika ada yang belum tahu,silahkan buka notes atau blog pribadi saya. Penjelasannya ada di sana. Nah, sekarang gantian. Kita membahas tentang aurat pria ketika sholat. Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata yang memang saya alami sendiri. Sudah sejak lama ingin menulis tentang ini, tapi baru terlaksana hari ini.

Aurat pria adalah dari pusar hingga lutut. Lutut dan pusar tidak termasuk aurat, sehingga yang harus ditutupi cukup bagian tubuh di antara pusar dan lutut. Namun, bagian dari pusar dan lutut harus ditutup supaya aurat yang dekat dengan keduanya benar-benar tertutup. Jika aurat seseorang terbuka ketika sholat, sholatnya batal. Akan tetapi, jika auratnya itu terbuka tanpa sengaja, seperti terhembus angin, lalu ditutup dengan segera tanpa banyak bergerak, sholatnya tidak batal. Jika terbukanya aurat itu bukan karena hembusan angin, seperti ulah binatang atau anak kecil yang belum mumayyiz, sholatnya tetap batal. Itu berlaku untuk laki – laki dan wanita. Menurut Mahzab Syafi’i.

Bukankah sholat itu harus satu mahzab? Termasuk dari bersuci, adzan, iqomah, sampai sholat itu sendiri? Yang itu termasuk rangkaian ibadah sholat. Bagaimana jika tidak satu mahzab? Wallahualam, ilmu saya belum sampai ke sana. InsyaAlloh, jika sudah saya dapatkan, saya akan berbagi.

Kesadaran akan ada yang salah tentang cara saya menutup aurat ketika sholat adalah waktu awal – awal kuliah. Salah yang bagian mananya? Bagian baju. Saya ini kalau sholat, jika tidak waktu kuliah dan kerja, kebanyakan memakai sarung, baju koko, dan peci. Jika saya pemakai sarung, kalian pasti tahu apa maksudnya kan? Untuk yang peci, itu adalah untuk merapikan rambut supaya tidak menghalangi kening dengan tempat sujud. Pemakaian peci juga tidak boleh menutup kening. InsyaAlloh akan saya bahas di lain kesempatan. Masalah saya ada pada baju.

Ketika sholat saat masih di kampus dan saat masih bekerja, itu tak masalah. Karena saya terbiasa menggunakan kaos dalam. Tapi ketika sholat menggunakan baju koko yang kancingnya dari leher sampai bawah dan kemeja – kemeja lain yang kancingnya dari atas ke bawah juga, ternyata ada yang salah. Ketika berdiri, ruku, I’tidal, sujud, itu tak mengapa. Masalahnya ada pada duduk diantara dua sujud, duduk di takhiyat awal dan akhir. Memangnya kenapa?

Minggu, 20 Januari 2013

Pemilihan Mas Kawin


"Bagaimana cara menentukan besarnya mas kawin Mas Don? Kadang aku bingung harus memberinya apa, takut terlalu kecil, takut terlalu besar."
Sebaiknya kamu tanyakan kepada calon mempelai wanita Den Bagus. Ia mau diberi mahar apa. Jika kau tak sanggup memenuhinya, maka berilah sesuai kemampuanmu.

“Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad)
“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Dari guru ngajiku,
“Jika seorang wanita bisa dinikahi dengan mahar ngasal, seadanya, itu berarti ada yang tidak beres dengan agamanya. Seorang perempuan yang bagus agamanya, harus ditebus dengan mas kawin yang mahal. Harus dihargai tinggi. Itu adalah salah satu penghormatan kepadanya dan kepada keluarganya.”