Kamis, 24 Januari 2013

Alasanku kenapa Memakai 2 Lapis Pakaian ketika Sholat




Masih ingat dengan tulisanku yang berjudul “Astaghfirulloh, Istriku Bermukena 2 Potong ketika Sholat”? Jika ada yang belum tahu,silahkan buka notes atau blog pribadi saya. Penjelasannya ada di sana. Nah, sekarang gantian. Kita membahas tentang aurat pria ketika sholat. Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata yang memang saya alami sendiri. Sudah sejak lama ingin menulis tentang ini, tapi baru terlaksana hari ini.

Aurat pria adalah dari pusar hingga lutut. Lutut dan pusar tidak termasuk aurat, sehingga yang harus ditutupi cukup bagian tubuh di antara pusar dan lutut. Namun, bagian dari pusar dan lutut harus ditutup supaya aurat yang dekat dengan keduanya benar-benar tertutup. Jika aurat seseorang terbuka ketika sholat, sholatnya batal. Akan tetapi, jika auratnya itu terbuka tanpa sengaja, seperti terhembus angin, lalu ditutup dengan segera tanpa banyak bergerak, sholatnya tidak batal. Jika terbukanya aurat itu bukan karena hembusan angin, seperti ulah binatang atau anak kecil yang belum mumayyiz, sholatnya tetap batal. Itu berlaku untuk laki – laki dan wanita. Menurut Mahzab Syafi’i.

Bukankah sholat itu harus satu mahzab? Termasuk dari bersuci, adzan, iqomah, sampai sholat itu sendiri? Yang itu termasuk rangkaian ibadah sholat. Bagaimana jika tidak satu mahzab? Wallahualam, ilmu saya belum sampai ke sana. InsyaAlloh, jika sudah saya dapatkan, saya akan berbagi.

Kesadaran akan ada yang salah tentang cara saya menutup aurat ketika sholat adalah waktu awal – awal kuliah. Salah yang bagian mananya? Bagian baju. Saya ini kalau sholat, jika tidak waktu kuliah dan kerja, kebanyakan memakai sarung, baju koko, dan peci. Jika saya pemakai sarung, kalian pasti tahu apa maksudnya kan? Untuk yang peci, itu adalah untuk merapikan rambut supaya tidak menghalangi kening dengan tempat sujud. Pemakaian peci juga tidak boleh menutup kening. InsyaAlloh akan saya bahas di lain kesempatan. Masalah saya ada pada baju.

Ketika sholat saat masih di kampus dan saat masih bekerja, itu tak masalah. Karena saya terbiasa menggunakan kaos dalam. Tapi ketika sholat menggunakan baju koko yang kancingnya dari leher sampai bawah dan kemeja – kemeja lain yang kancingnya dari atas ke bawah juga, ternyata ada yang salah. Ketika berdiri, ruku, I’tidal, sujud, itu tak mengapa. Masalahnya ada pada duduk diantara dua sujud, duduk di takhiyat awal dan akhir. Memangnya kenapa?

Minggu, 20 Januari 2013

Pemilihan Mas Kawin


"Bagaimana cara menentukan besarnya mas kawin Mas Don? Kadang aku bingung harus memberinya apa, takut terlalu kecil, takut terlalu besar."
Sebaiknya kamu tanyakan kepada calon mempelai wanita Den Bagus. Ia mau diberi mahar apa. Jika kau tak sanggup memenuhinya, maka berilah sesuai kemampuanmu.

“Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad)
“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Dari guru ngajiku,
“Jika seorang wanita bisa dinikahi dengan mahar ngasal, seadanya, itu berarti ada yang tidak beres dengan agamanya. Seorang perempuan yang bagus agamanya, harus ditebus dengan mas kawin yang mahal. Harus dihargai tinggi. Itu adalah salah satu penghormatan kepadanya dan kepada keluarganya.”