Jumat, 30 Agustus 2013

MAMEN,,,,Alloh TIDAK ada di LANGIT Mamen.... Ouh – Yeaahh...


Kalau Alloh ada di Langit, kenapa Alloh harus ‘Repot-repot Menemui’ Nabi Musa di sekitar atas gunung Thursina?
Mamen, Aqidah Rasulullah, para sahabatnya, para ulama salaf saleh (Al-Ghozali ke Atas), dan aqidah mayoritas umat Islam, Ahlussunnah Wal Jama’ah ialah bahwa Allah ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah. ‘Ora Arah Ora Enggon’
Note: Salaf bukan Salafi, keduanya beda. Kita bahas lain waktu.

Padahal, telah ditetapkan bahwa Allah bukan benda, Dia tidak membutuhkan tempat dan arah. Dia Ada tanpa permulaan, tanpa arah dan tanpa tempat.
“Mamen Mas Don, di Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, Arti dari ayat itu semuanya:“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” Ada juga yang mengartikan itu “Dia Bersemayam di atas ‘Arsy nya”
Mamen Mas Don, bagaimana itu?”
Buset, sampean sampai hafal surat-suratnya.

Begini Mamen,
Penerjemahan “Bersemayam” perlu di tinjau ulang, karena bersemayam berarti duduk, tinggal, berkediaman. Padahal artinya bukanlah ini.
Bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk.
Sebab Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa persis dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). 

Sabtu, 24 Agustus 2013

23 VS 11, Mana yang Tanpa Dasar


Ada yang berkata, Sholat Traweh dan witir 23 atau 11 Roka’at sama saja. Itu SALAH.
Sesungguhnya itu berbeda. Anak kecil akan berkata rokaatnya saja sudah berbeda. Anak besar akan berkata dasarnya beda. 
Saya Inshaa Alloh seorang Syafi’iyyah. Madzhab Syafi’i adalah 20 Roka’at dengan 1 salam setiap 2 Roka’at.
Ketika masa Khulafaur Rosyidin, masa Umar r.a ( cek lagi, ingatan saya masih rancu antara masa Umar r.a dan Ustman r.a, karena sama – sama berawalan “U”). 
Pada masa Umar r.a, Sholat Traweh adalah 20 roka’at.
Dan ada Hadist : “Berpegangteguhlah kepada sunahku dan sunah Khulafaur Rosyidin yang diberi petunjuk” (HR. Abu Dawud)

Praktek yang dilakukan Khulafaur Rosyidin pasti mempunyai dasar yang kebenarannya dijamin oleh Rosul. Mereka hidup di jaman Rosul. Dan sebaik – baiknya masa islam adalah masa ketika Rosul hidup.
Waktu sholat traweh setelah Isha, jadi sudah terhitung Sholat Malam.

“Kalau ada yang Traweh 8 Roka’at Mas Don?” 
Oh, itu, mereka mengacu pada hadist ini, tapi salah menafsirkan,
Dari Aisyah r.a: “Pada Bulan Romadhon dan selain bulan Romadhon, Nabi SAW Sholat Malam tidak lebih dari 11 Roka’at”
Lihat, jika mereka traweh dan witir 11 Roka’at di bulan Romadhon, kenapa di luar bulan Romadhon tidak traweh dan witir sekalian? Nah lho.

Jadi, maksud hadist ini, Sholat malam yang dimaksud adalah Sholat Witir Den Bagus. Sholat Witir itu paling banyak dilakukan 11 Roka’at. Coba, sholat malam apa yang jumlahnya ganjil kalau tidak witir? Tahajud? Genap. Traweh? Genap pula, 2 - 2. Jadi sholat malam yang dimaksud dalam hadist itu adalah sholat witir. 

Yang Salah Bukan Imam yang Membaca Cepat Al Fatihah ketika Traweh 20 Roka'at, TAPI ....


Dulu, ada beberapa orang yang berkata traweh 8 roka'at memakai surat yang panjang lebih baik daripada sholat traweh 20 roka'at cepat. 
Dulu, ada yang berkata, tidak sah traweh 20 roka'at dengan cepat.
Dulu ada yang menuduh tidak khusuk. Tergesa gesa. 

Den Bagus, sampean pernah Mengecek Hafalan seorang Hafidz Qur'an?
"Pernah Mas Don, saya mengeceknya pakai Al Qur'an karena saya belu hafidz. Bagaimana dia melafaldkan hafalannya? 
"Cepat Mas Don, saya kedandapan, kelabakan, ketinggalan, tidak nuntut meskipun saya mengecek dengan Al Qur'an. Cepat".
Apakah ada yang keliru sejauh mata sampean memandang? 
"Waktu itu tidak ada. Hanya saja, dia cepat. 

Kira kira, jika seorang hafidz, mengecek hafalan temannya yang seorang hafidz pula dengan melafaldkan cepat, kira kira apakah dia kelabakan seperti sampean?
"Tidak, pasti itu akan mudah jika sesama hafidz"
Nah, itu dia.
Apakah kira-kira 1 ketukan setiap orang itu sama Den Bagus dalam Membaca Al Qur'an, dalam ilmu tajwid? 
"Pasti beda mas don"

3 Roka’at Witir itu JAUH BEDA dengan 3 Roka’at Magrib

Sholat witir itu boleh 1 Roka’at. Hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, di mana Nabi SAW Bersabda, “Sholat witir adalah satu roka’at di sebagian akhir malam” (HR. Muslim).

Sholat witir 3 Roka’at dengan cara dua roka’at sholat kemudian salam, lalu mengerjakan 1 roka’at lagi dengan salam lagi.

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW memisahkan antara 2 roka’at dan satu roka’at 
(Hr. Bukhori dan Malik)
Waktu Sholat Witir itu setelah sholat Isya’ hingga munculnya fajar.

Tidak diperbolehkan mengerjakan sholat witir 2 roka’at dengan dua tasyahud dan sekali salam yang menyerupai sholat Magrib.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, 
“Janganlah berwitir dengan 3 roka’at, berwitirlah dengan 5 roka’at atau tujuh roka’at, dan janganlah kamu menyerupakan dengan sholat Magrib”

Hadist di atas yang tidak memperbolehkan berwitir dengan 3 roka’at maksudnya adalah tidak boleh berwitir menyerupai sholat magrib.