Senin, 16 September 2013

Sejarah & Filosofi KENTONGAN dan BEDUG Mushola – Masjid


Pada jaman dahulu kala, hehe, masih belum ada listrik ketika Islam masuk ke Jawa. Begitu juga ketika Islam masuk ke Indonesia pada umumnya. Saat itu, adzan dikumandangkan tidak memakai mikrofon/mic. Melainkan diserukan secara ‘manual’. Karena seruan muadzin ini tidak bisa menjangkau seluruh desa, katakanlah begitu, maka dibuatlah ‘alat pemanggil’ untuk datang ke mushola / masjid sebelum adzan dikumandangkan.

Jika kita orang desa, pastilah kita tahu tentang yang namanya Kentongan. Digunakan oleh orang – orang desa dalam berkomunikasi dengan cepat kepada seluruh warga desa. Kebiasaan ini sudah lama ada, sebelum islam masuk ke Indonesia. Ada aturannya, tidak asal pukul. Masih ingat gak?

ORANG DESA MANA SUARANYA ? Hehe...
Setiap daerah punya aturan sendiri – sendiri. Jika di Desa saya,
3 Pukulan, jeda, lalu 3 pukulan lagi, selama beberapa menit, berarti ada kematian, baik kematian karena ada pembunuhan, atau sakit.
4 Pukulan, jeda, lalu 4 Pukulan, itu berarti ada Maling.
1 Pukulan terus menyambung dan cepat, itu berarti ada kebakaran, banjir, atau bencana.
Masih ingat gak? Haha....
“Wah, sudah lupa Mas Don, itu jaman kapan, haha”

Nah, kentongan ini kemudian ‘dicopy’ oleh mushola dan masjid. Untuk membedakannya dengan tanda kematian, bencana, maka kentongan ini ‘Dipasangkan’ dengan Bedug.
Suara kentongan dan bedung ini menggelegar sampai ke ujung Dusun. Sampai ke tetangga desa. Bahkan sampai berkilo – kilo meter juga ada. Jadilah, kentongan dan bedug sebelum adzan.