Senin, 03 Maret 2014

Cara Menghitung Uang Riba (Bunga Bank)


Tanggal 10 Februari kemarin saya ke bank, dengan niat Menghentikan Aliran Uang Riba ke Rekening Saya.

Saya ke CS Nasabah. Ingin dihitungkan bunga yang telah masuk ke rekening saya dari awal tabungan saya sampai hari ini. Tapi ternyata tidak bisa keseluruhan. Bisanya per bulan. Dengan cara melihat buku tabungna. Ya, lihat buku tabungan.
Pertama, lihat halaman awal buku tabungan. Di situ ada ‘Keterangan Kode Transaksi’. Mulai dari penyetoran sampai Batal biaya. Dan lihat kode transaksi no. 6. Yaitu bunga. Setiap bank beda – beda ya kodenya.

Lalu, lihat print – pintan buku tabungan. Di situ ada kolom Nomer, Tanggal Transaksi sampai ke kanan, yaitu pengesahan petugas bank.
Lihat Tanggal Transaksi dan Kolom Kredit. Kolom Kredit artinya nominal bunga bank yang masuk ke rekening kita. Ada angka di situ. Itulah uang riba.
Lihat tanggal transaksi. Setelah tanggal, bulan, dan tahun transaksi, di situ ada kode transaksi seperti yang ada di halaman awal buku tabungan. Bisa ‘01’, bisa ‘6’ bisa ‘10’ tergantung transaksinya. Dan, di buku tabungan saya, kode 6 adalah kode mendapatkan uang riba itu.

Lalu, lihat saja dari awal tabungan dibuat sampai hari ini, mana – mana saja yang berkode 6 alias berkode bunga. Lalu lihat kolom kredit. Dan jumlahkan semua nominal dengan kode transaksi bunga itu. Print buku tabungan yang lengkap ya. artinya, jangan sampai putus di bulan tertentu. Cetak Buku Tabungan. Biasanya sudah dicetak setiap kali kita membawa buku tabungan ke Bank.
Saya mendapatkan angka Rp 4.680,- di rekening saya dengan kode bunga. Itulah uang riba. Lalu saya tersenyum.

“Kok Sedikit banget Mas Don?” Biar sedikit, riba tetap riba Den Bagus. Ya untuk ukuran orang yang kerjanya Serabutan seperti saya begini, mana mungkin punya tabungan yang banyak. Jadilah bunganya segitu. Bulatkan saja Rp 5.000,- biar enak ngingetnya.Bulatkan ke atas, jangan ke bawah.

Saya minta ke CS Nasabah untuk ‘Menghentikan Aliran Uang Riba’ ke rekening saya. Ternyata tidak bisa. Yang bisa menghentikan aliran uang riba ke rekening adalah rekening pemerintah. Rekening pribadi dan yayasan belum bisa. Itu di bank yang saya datangi. Tidak tahu jika di bank yang lain.

“Lalu, dengan uang riba itu, sampean bagaimana Mas Don?”
Saya ambil uang Rp 50.000,- di ATM. Dan menyisihkan uang Rp 5.000,- itu ke dompet. Jika nanti ada pembangunan got, pembangunan WC, akan saya berikan uang itu untuk pembangunan got/WC tersebut.

“Masa Cuma Rp 5.000,- Saja Mas Don ngasih buat pembangunan got/WC nya? Kasih lebih lah.”
Haha, iya iya Den Bagus.

“Kenapa tidak diberikan ke keluarga, anak yatim, atau orang dhuafa Mas Don?” Haram Den Bagus. Dosa ada di saya jika seperti itu. Berikan kepada urusan – urusan yang seperti pembangunan got, pembangunan WC, pembangunan tempat pembuangan sampah, atau semacamnya. Jangan dibuat untuk urusan pembangunan masjid, pembangunan sekolah, pembangunan sarana menuntut ilmu. Keharaman dan kedosaan menempel padamu. Tidak boleh untuk disumbangkan ke pembangunan masjid, sekolah, pesantren, panti asuhan, apalagi sampai masuk ke tubuh manusia melalui makanan. ITU TIDAK BOLEH.

“Apakah setiap waktu, setiap tahun harus seperti itu Mas Don?”
Iya, begitulah, mau tidak mau.
“Kalau menabung di bank syariah Mas Don?”
Boleh, karena akadnya dari awal adalah sharing profit. Artinya, jika ada keuntungan, dibagi, tapi jika tidak ada keuntungan, maka tidak ada yang dibagi. Sharing profit ini bukan Sharing Loss. Artinya jika bank mengalami kerugian, maka kerugiannya tidak dibagi denganmu Den Bagus. Maka uangmu tetap segitu. Haha. Maka nabung di bank syariah itu lebih baik.

-Jangan Sampai Perkara – Perkara Kecil Seperti ini ‘Nyeliliti’ di Akhirat-


Semoga Bermanfaat.
Salam Hangat, dari Mas Don.


Tambahan:
Dari Mas Andhito: "Bank Mand***  Konvensional bisa lho diminta dihapus bunga tiap bulanya."

Sholat di Bis Malam – Bis Jarak Jauh


Sholat di Bis Malam seperti sholat di kereta malam. TAPI, TIDAK boleh dilaksanakan di dalam bis. Meskipun di bis itu ada ruang berdiri dan cukup untuk sujud sekalipun.
“Kenapa Mas Don?” Karena arah bisnya yang berubah – ubah Den Bagus. Belak – belok. Meskipun sampean sholat di dalam bis dengan berdiri dan bisa sujud sekalipun, sholatmu tidak akan sah. 

Bis malam atau bis jarak jauh itu rata – rata akan berhenti di tempat makan/tempat istirahat meskipun sebentar. Misal, dari Jakarta ke Tulungagung (Jawa Timur). Saya berangkat dari kosan sebelum dzuhur. Sampai Terminal Lebak Bulus (Jakarta) sudah dzuhur, maka saya jama taqdim dhuhur ashar di masjid terminal, di waktu dhuhur.
Lalu bis berangkat. Kira – kira, sampai Subang (Jawa Barat), tempat pemeberhentian pertama/makan itu masih sore. Jam 5 an. Jika sampean memilih jama ta’khir dhuhur ashar, juga masih bisa.

Ketika sudah magrib dan Isha, bis pasti kebanyakan berhenti di waktu isha, jarang ada bis berhenti di waktu magrib. Maka niatkanlah jama ta’khir magrib isha. Niatnya harus di waktu magrib. Pelaksanaan sholatnya di waktu isha.

Bis jarak jauh itu pasti berhenti lebih dari satu kali tempat. Biasanya jika dari Jakarta ke Jawa Timur, itu berhenti lagi di Kendal (dekat Semarang, Jawa Tengah) ketika sudah Isha. Maka bisa sholat jama ta’khir magrib isha. Magrib dulu 3 roka’at, lalu disambung isha 4 roka’at. Sholat jama qoshor ta’khir magrib isha juga boleh. Magrib 3 roka’at, lalu disambung isha 2 roka’at. Ishanya diringkas menjadi 2 roka’at.

Nah, ketika subuh, biasanya itu berhenti lagi di Jawa timur, di daerah Ngawi. Untuk snack pagi. Dan sampean bisa sholat subuh seperti biasa di mushola tempat istirahat. JADI KITA BISA SHOLAT DENGAN SEMPURNA.

“JIKA BIS TIDAK BERHENTI Mas Don?”
Maka tanyalah kapan Bis itu akan Isi Bensin di SPBU. Untuk jarak jauh sekalipun, pasti bis akan isi bensin. Lalu minta tolong ke Kondekturnya, suruh bangunin ketika bis berhenti di Pom Bensin, bilang mau sholat. biasanya kondektur untuk urusan ibadah, mereka paham. Pun, biasanya jika bis berhenti, kita otomatis bangun Den Bagus jika sebelumnya tidur.

“JIKA TAK BERHENTI ISI BENSIN?”
Maka minta tolonglah kepada kondektur dan sopir supaya berhenti sebentar di Pom Bensin, sampean akan sholat, dan bilang ke mereka kalau sebenarnya banyak orang yang ingin sholat Cuma mungkin sungkan atau malu atau tidak berani atau MALAS bilang dan minta tolong ke kondektur dan sopir. Mereka pasti mengerti. Minta tolonglah supaya pak sopir memberhentikan di SPBU. Mungkin juga ada penumpang yang lain mau ke toilet atau beli minuman.

Dan, ketika saya memakai cara ini, ada satu dua orang yang mengikuti saya turun dan sholat di mushola SPBU. Alhamdulillah saat itu bisa berjama’ah sholat jama’. Benar, sesungguhnya mereka segan atau bahkan malu untuk minta tolong berhenti di SPBU atau di mana gitu ya. Sekali ada yang minta tolong berhenti untuk sholat, maka beberapa ikut berhamburan.

Ketika subuh, maka minta tolonglah lagi. Jika masih susah, lobi dengan halus, bilang kalau waktu subuh itu sempit. InshaaAlloh akan dimudahkan jika sampean mencoba dan berusaha.

“Jika tetap tidak Berhenti Mas Don?” Maka, yang terakhir adalah sholatlah di kursi Bis dengan wudlu sebagai bersucinya karena tayamum tak akan sah. Bawa Botol Isi Air. Dan, sholat yang seperti itu HARUS DIGANTI setelah sampai di tempat tujuan karena tak bisa berdiri, ruku dan sujud sempurna, pun tak bisa menghadap kiblat. Jika ‘memberanikan diri untuk tidak sholat’, maka dia mendapat dosa karena meninggalkan kewajiban dan tetap harus mengqodho.

"Jika bis jarak menengah Mas DOn?" Ya menyesuaikan saja.
Sumber: Kitab Fatkhul Qorib.
Semoga Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.

Sholat di Kapal Laut


Kapal laut adalah tempat lapang, mungkin malah ada mushola di sana. 
Maka sholat bisa dilakukan seperti biasa. Sedangkan arah kiblatnya, menyesuaikan arah kapal laut. Bisa tanyak ke ABK/Nahkoda arah baratnya. 
Karena kapal laut tidak belak – belok, cenderung lurus, maka sholatpun bisa ditunaikan dengan tenang. Pun jika tak ada ruang khusus sholat/ mushola, rasanya, banyak tempat lapang di kapal laut.

Pun jika kita jika pergi ke Korea menggunakan kapal laut, pasti ke arah utara, belok saja ke kiri Den Bagus, ototmatis itu sudah barat, sudah kiblat.
“Dari kemarin Korea mulu Mas Don?”
Ya sekali – kali Den Bagus, contoh mudahnya. Haha..

“Bersucinya bagaimana Mas Don?”
Pakai air, Tayamum tak akan sah. Karena di kapal pasti tersedia banyak air baik di kamar mandi atau sampean bisa bawa sendiri. Termasuk air lautpun sah untuk wudlu.
“Ketika perjalanan jauh Mas Don? Kan kita ada di tengah – tengah laut. Bagaimana?”
Lihatlah matahari.

Cara mengetahui Kiblatnya sama dengan 'Cara Sholat di Pesawat'.
Jika sudah membaca 'Cara Sholat di Pesawat', inshaaAlloh sudah ada di sana.

Sholat di kapal laut adalah sholat seperti biasa, boleh juga jama atau qoshor, atau jama qoshor asal sudah melebihi 88,5 Km. Untuk sholat di kapal laut kali ini cukup singkat.
Semoga Bermanfaat.

Sumber: Kitab Fatkhul Qorib

Salam Hangat, dari Mas Don.

Sholat Pendaki Gunung -dan tukang berpergian-


Sholat pendaki gunung boleh dijama’ atau diqoshor ASAL sudah lebih dari 88,5 Km. Dari tempat ia berangkat sampai puncak gunung yang dituju. Dan, SYARATnya adalah perjalanan itu bukan untuk maksiat. Misal, jika perjalanan ke gunung itu untuk mengambil tanaman tertentu yang dilindungi negara, atau niatnya mengambil hewan tertentu yang dilindungi negara, maka ia tidak boleh sholatnya dijama’ atau diqoshor.

Orang yang seperti itu meskipun sudah lebih dari 88,5 Km tetap sholat seperti biasa. Pun, jika niatnya mendaki gunung untuk berduaan, pacaran, untuk pedekate, untuk melihat wanita, maka tidak boleh sholatnya dijama’ atau diqoshor. Sholat wajibnya sholat wajib seperti biasa.

“Memangnya kenapa Mas Don?” Karena syarat sholat jama’ atau sholat qoshor adalah bukan perjalanan untuk maksiat. Sedangkan yang saya sebutkan di atas tadi Den Bagus, itu maksiat semua. Perjalanan yang diperbolehkan jama’ atau qoshor adalah perjalanan sunnah, wajib, atau mubah. Misalnya niat naik gunung untuk menikmati keindahan, merenungi ciptaan Alloh, maka itu boleh. Reuni dengan teman, itu juga boleh.

Jika niatnya seperti itu dan sudah lebih dari 88,5 Km, maka boleh sholat jama atau qoshor atau jama dan qoshor. Misalnya, ketika sampai gunung sudah magrib, maka boleh jama taqdim magrib isha yang dikerjakan di waktu magrib. 3 roka’at magrib lalu disambung dengan 4 roka’at isha. Boleh berjama’ah. Itu lebih baik.
Atau, sholat jama’ ta’khir magrib isha yang dikerjakan di waktu isha DENGAN SYARAT niat mengerjakan sholat jama’ ta’khir magrib ishanya di waktu magrib, tapi mengerjakan sholatnya di waktu isha. Oke Den Bagus?

“Oke Mas Don. Ketika di waktu magrib, kita sudah berniat untuk melakukan sholat jama ta’khir magrib isha di waktu isha nanti”.
Iya. Begitu. 3 roka’at magrib dulu, lalu 4 roka’at isha. Jika tidak berniat di waktu magrib, maka sholat jama ta’khir magrib ishanya tidak sah. OTOMATIS dia meninggalkan sholat magrib dan dia berdosa.

“Jika tidak niat di waktu magrib, seharusnya bagaimana Mas Don?”
Segera qodho sholat magrib dan mengerjakan sholat isha seperti biasa. Maka ia berdosa meninggalkan sholat magrib. Untuk sholat dzuhur dan ashar sama seperti itu.
Sholat subuh berdiri sendiri. Tidak ada gabungan satupun.

“Berarti tidak boleh diqodho ya Mas Don sholat pendaki gunung itu?”
Tidak boleh. Jika selama ini dia beranggapan sholat pendaki gunungnya itu boleh diqodho, maka ia berdosa sebanyak sholat yang ditinggalkan dikali berapa kali ia naik gunung. Karena ia meninggalkan wajib.

“Ketika naik gunung, pakaian kita kotor, itu bagaimana Mas Don?”
Yang laki, bawalah sarung, yang perempuan, bawalah rukuh. Atau bawa baju ganti. Masa urusan dunia saja, makanan, tenda dibawa, urusan akhira enggak bawa?

Pakaian jika kotor, lihat, apakah di kotorannya itu ada najisnya apa tidak. Lalu Baulah. Apakah ada bau najis apa tidak. Kalau kotorannya berasal dari lumpur atau tanah saja, maka sholatlah. Sholatmu sah. Pakai sarungmu. Pakai rukuhmu. Jika di pakaianmu ada najis, maka gantilah. Tempat sujudnya boleh tanah yang tak bernajis, boleh matras, boleh rumput tak bernajis.
-Kitab Safinah-
Semoga Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.

Sholat di Pesawat


Sholat di Pesawat boleh dilakukan kapan saja ketika pesawat jarak pendek, menengah, atau jarak jauh. Biasanya dilakukan ketika kita naik pesawat yang melebihi/melewati waktu sholat. Misal, sebelum dzuhur kita naik pesawat, mendarat ketika waktu magrib. Itu berarti waktu dzuhur dan ashar kita di pesawat. Maka kita harus sholat di dalam pesawat. Itu pasti melebihi 88,5 Km. Jadi boleh jama’ atau qoshor.

Jika tak mau sholat di pesawat, siasati waktunya. Misalnya, berangkat sebelum dzuhur, sampai tujuan ketika ashar. Maka jama ta’khir dzhuhur ashar ketika sudah sampai di mushola bandara tujuan.
Sholat di Pesawat harus dilakukan dengan cara berdiri dengan menghadap kiblat. Sama dengan di kereta. Sholat fardhu itu punya rukun yang tidak boleh ditinggalkan, seperti berdiri, ruku', sujud, yang semua harus dilakukan dengan sempurna.

“Kalau terbang melewati waktu Subuh Mas Don?”
Shalat shubuh jelas tidak bisa dijamak. Dan juga haram ditinggalkan. Misal ketika saya terbang dari Jakarta ke Korea.
“Memangnya mau jadi Boyband Mas Don? Apa TKI? Haha..”
Mau ketemu Girlband Den Bagus. Haha. Terbangnya malam hari dan mendarat jam delapan pagi waktu Korea. Jelas sekali saya melewati waktu shubuh. Maka dalam keadaan itu, saya harus shalat di dalam pesawat.

“Bersucinya bagaimana Mas Don ketika di dalam pesawat? Apakah boleh tayamum?”
Bersucinya dengan wudlu. Tayamum tidak sah. Karena air di dalam pesawat melimpah. Airnya bisa dari kran air atau westafel. Di kabin pramugari/dapur pasti ada sebuah kran air. Mintalah air di sana. Kalau tak ada, dari kran air yang ada di toilet, ambil air dari situ. Jika mau, bawalah air sendiri. Tidak mungkin sebuah pesawat terbang tanpa air.
Wudlu dengan membasuh muka tangan rambut kaki. Yang wajib saja dibasuh. Tuangkan air ke tangan, lalu basuh. Jadi air tak akan membasahi lantai pesawat. Sederhana dan Sah.

“Tempat sholatnya di mana Mas Don kalau di dalam Pesawat?”
Sholat boleh dilakukan dimana saja, asalkan kita bisa melakukan gerakan sholat dengan sempurna. Bisa berdiri, rukuk, sujud dan sebagainya. ASAL TIDAK SOK GENGSI, SOK JAIM, SOK SUNGKAN pastinya selalu ada tempat.

Kita bisa sholat di dekat pintu masuk atau keluar pesawat Den Bagus. Tempat itu tidak pernah diisi dengan kursi, karena merupakan jalan para penumpang masuk atau keluar. Pada saat pesawat sedang terbang, tentunya tempat kosong. Di tempat itulah kita bisa melakukan sholat dengan sempurna Den Bagus.
Atau, di KABIN PRAMUGARI Den Bagus. Di dapurnya. Minta ijin barang 5 menit untuk sholat. Sekalian saja ajak pramugari sholat. Dia makmumnya, kamu imamnya. Mantab. Hehe.

“Kenapa tidak di kursi Mas DOn?

Karena masih ada tempat untuk berdiri, ruku' dan sujud yang benar. Belum ada kebolehan shalat dengan duduk. Pun juga, karena dia bukan termasuk orang yang sakit yang tidak bisa berdiri.
Sholat dengan duduk hanya berlaku jika keadaan sudah tidak bisa berdiri dan hanya berlaku untuk orang yang sudah sakit parah (tidak bisa berdiri). Maka ia boleh sholat dengan duduk. Dan sholat orang yang duduk karena sakit (tidak bisa berdiri), maka tidak perlu diganti.

“Kalau tetap sholat di kursi Mas Don?”
Bilang saja malas Den Bagus. Tidak mau susah sedikit. Jadinya sholat jadi – jadian. Ya begitulah namanya manusia, tidak mau melaksanakan rukun-rukun shalat yang menjadi penentu sah atau tidak sahnya shalat, cuma dengan alasan sederhana : Sungkan!! Malu !! Alah embuh.

Jadi kalau mau shalat yang benar, sah, dengan memenuhi syarat dan rukunnya, jangan shalat di kursi. Kursi itu hanya untuk orang sakit yang memang total tidak bisa berdiri.
Ketika Ja'far bin Abi Thalib memimpin rombongan yang hijrah ke Habasyah, Rasulullah SAW mewanti-wanti untuk tetap mengerjakan shalat di atas kapal laut dengan berdiri dan seterusnya.
Bahwa Nabi SAW ketika mengutus Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahuanhu ke Habasyah, memerintahkan untuk sholat di atas kapal laut dengan berdiri, kecuali bila takut tenggelam. (HR. Al-Haitsami dan Al-Bazzar)

(Mohon maaf) Kebanyakan calon jama’ah haji, tidak mengerjakan sholat di pesawat Den Bagus. Kalaupun mengerjakan, itu dengan duduk dan tidak diganti di hari Lain. Maka ia mendapat dosa. Sesunggunya, ‘mampu Haji’ itu macam – macam. Karena ‘Mampu duit’, dia bisa berangkat, ada juga ‘Dimampukan oleh Alloh’ yang membuat dia menjadi tamu Alloh.
InshaaAlloh ada waktunya untuk kita Den Bagus. Tenang saja.
“Aamiin Mas Don”.

“Bagaimana dengan kiblatnya Mas Don?”
Tanya ke pramugarinya, ‘Assalamu’alaykum Mbak Pramugari, Kiblat ke arah mana ya? Tolong tanyakan ke pilot’.
Pesawat terbang dilengkapi dengan Global Positioning System (GPS) Den Bagus. Dan hanya pramugari yang boleh berkomunikasi dengan pilot. Maka manfaatkanlah. Jika tidak bisa, maka lihat saja ke arah luar pesawat. Ke arah langit. Atau, ingat tujuan yang kau tuju.
Misalnya tujuanmu Madinah, sudah pasti pesawat ke arah kiblat, maka arah kiblatnya sesuai dengan terbangnya pesawat. Atau, kau sedang ke Korea yang arah terbang pesawatnya ke utara, maka kau tinggal menghadap ke arah kiri, arah barat. Mudah.

“Waktu Sholatnya bagaimana Mas Don?”

Maka lihatlah ke luar. Lihat matahari.
Untuk shalat Dzhuhur dan Ashar yang memang boleh dijama' , kita bisa melihat ke luar jendela. Selama matahari sudah lewat dari atas kepala kita dan belum tenggelam di ufuk barat, kita masih bisa menjama' kedua shalat itu. Untuk yakinnya, mari kita jama' ta'khir saja. Di waktu ashar. Yang kira – kira matahari sudah condong ke barat. Ingat, niat jama ta’khir dzuhur ashar di waktu dzuhur ya. Selama matahari sudah condong ke arah Barat namun belum tenggelam, maka itulah waktu Ashar.

“Magrib dan Isha bagaimana Mas Don?” Sholat jama' ta'khir magrib isha di waktu isya saja Den Bagus. Jika malam sudah gelap tak ada mega merah jingganya, sudah gelap, maka itu sudah Isha.
“Bagaimana dengan Sholat shubuh Mas Don?”

Shalat shubuh itu waktunya sejak terbit fajar hingga matahari terbit.
Cukup kita menengok keluar jendela, ketika gelap malam mulai hilang dan langit menunjukkan tanda-tanda terang namun matahari belum terbit, maka itulah waktu shubuh. Sholatlah shubuh pada waktu itu dan jangan sampai matahari sudah terbit.

“Kenapa tidak memakai jam saja Mas Don?”
Untuk waktu sholat, jangan menggunakan acuan Jam. Karena kita tidak tahu kita sedang di atas negara mana Den Bagus. Di atas kota apa. Bisa juga di atas laut, hutan, padang pasir juga bisa.

“Kalau hujan Mas Don? Kalau langit mendung?”
Kau tidak akan melihat mendung, kau tak akan melihat hujan, karena kau ada di atas awan Den Bagus. Haha. Jadi langit cerah. Matahari kelihatan.
-Kitab Safinah-
Semoga Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.

Sholat di Kereta Malam - Kereta Jarah Jauh


“Bagaimana caranya Mas Don?”
Jika kita sholat di dalam kereta, maka sholatnya dengan berdiri Den Bagus. Harus menghadap kiblat. Jika tidak menghadap kiblat, tidak memenuhi syarat sah sholat. Ini untuk shoalt Fardhu. 

“Memang ada tempatnya Mas DOn?” Cari tempat yang bisa untuk berdiri, ruku’, dan sujud. Memang ini ekstrim karena di tengah – tengah keramaian orang. Biasanya di sela antar gerbong. Gelar koran atau kain. Sholat dan sujudlah.

“Arrah kiblat bagaimana Mas Don?” Lihatlah ketika kereta sedang berhenti di stasiun persinggahan. Pasti ada mushola di stasiun itu. Lihat arah kiblatnya. Setelah kereta jalan, barulah sholat di tempat yang lapang ke arah kiblat yang sudah kita tahu dari arah mushola stasiun pemberhentian sebelumnya.

“Kenapa tidak ketika kereta berhenti, kita sholat di mushola di stasiun persinggahan Mas Don?”
Bahaya. Kau bisa ketinggalan kereta karena rata – rata berhentinya sebentar sekali. Sangat cepat.
Kecuali, di STASIUN SEMARANG. Kereta berhenti lumayan lama di situ. Sekitar 15-30 menit. Bahkan lebih. Saya pernah jama’ qoshor ta’khir Magrib-Isha di situ.
“Kok bisa Mas Don?” Wudlunya di kereta Den Bagus supaya ketika kereta berhenti bisa langsung lari ke mushola stasiun Semarang.

“Air untuk wudlu dapat darimana Mas Don?” Bisa didapat dari beli air minum mineral yang warna bening. Bisa bawa air dari kosan/rumah. Bisa bawa botol kosongan dan airnya bisa ambil dari toilet kereta. Ada kran air di sana. Bisa juga wudlu di toilet kereta asal sampean sudah bersihkan dan siram lantai dan dindingnya sampai bersih. Lalu wudlulah.

Jika memakai air botol, cukup basuh muka, kedua tangan sampai siku, rambut/kepala, dan kedua kaki sampai mata kaki. Tidak dipancurkan, tapi air dituangkan di tangan lalu dibasuhkan ke anggota rukun wudlu. Membasuh yang rukun saja karena air dalam botol yang cukup. Wudlumu sah.
“Jika tidak bawa uang untuk membeli air kemasan Mas Don?”
Masa iya dalam perjalanan jauh tidak bawa uang yang lumayan banyak? Masa iya pelit dalam hal ibadah tapi tak pelit kalau untuk urusan lain?

“Kenapa tidak tayamum di dalam kereta Mas Don?”
TIDAK SAH. Karena air masih banyak tersedia. Baik Air kran yang ada di toilet atau Air kemasan yang bening botolan juga banyak dijual tukang asongan.
“Kalau kita ragu kereta berhenti lama, apakah kita boleh sambil duduk di kereta Mas Don?”
Boleh, tapi sholat yang duduk seperti ini, yang tidak memenuhi syarat sahnya sholat itu WAJIB QODHO atau diganti.

Sholat itu merupakan suatu kewajiban. Jika kau tinggalkan, maka kau berdosa. Jika kondisi tak memungkinakan, kau ragu turun karena kereta takut hanya berhenti sebentar, maka sholatlah dengan duduk. Kiblatnya? Serongkan tubuhmu ke arah kiblat. Sholat yang seperti ini tidak memenuhi rukun. Karena tidak bisa berdiri, ruku’ dan sujud. Tetap harus sholat bagaimanapun keadaannya. niatnya? Sholat fardhu biasa. Jama’/qoshor/jama’ qoshor juga boleh. Dan, Sholat yang seperti ini HARUS DIQODHO atau Diganti. QODHOnya SATU – SATU sholat. Tidak boleh qodho jama’ atau qodho qoshor. Tidak boleh.

Sebagai contoh, saya dari Jakarta pulang kampung ke Tulungagung (Jawa Timur). Saya berangkat sebelum dhuhur. Ketika sudah dzuhur, saya jama’ qoshor taqdim Dzuhur – Ashar di Mushola Stasiun Jakarta. Lalu masuk kereta. Ketika sampai Stasiun Semarang, itu sekitar tengah malam. Lalu saya ke mushola, jama qoshor ta’khir Magrib Isha. Ketika sudah masuk subuh, kereta sudah masuk Wilayah Jawa Timur yang rata – rata berhenti sebentar di stasiun persinggahan. Jadilah saya sholat di kereta dengan duduk.

“Kapan sampai di Tulungagungnya Mas Don?” Woo, bisa siang atau waktu dhuha Den Bagus. Sampai di Kediri saja biasanya matahari sudah terbit. Saya pakai kereta Ekonomi. Hehe...

“Kenapa tidak sholat dengan berdiri Mas Don?” Karena waktu itu masih belum seperti sekarang yang setiap orang dapat kursi. Jika sekarang, bisa sholat sambil berdiri di dekat pintu gerbong. Masalahnya, orang – orang sekarang malu. Dan ketika kita sholat di dekat pintu gerbong, bisa – bisa ada orang mau masuk atau mau keluar, lalu lalang, kita bisa ditabrak karena ya namanya orang tidak tahu kalau ada orang sholat di situ. Nah, Itu berarti, saya hanya Qodho Sholat Subuh ketika sampai di stasiun tujuan.
“Kenapa tidak Qodho Subuhnya ketika di rumah?” Qodho sholat itu harus dikerjakan sesegera mungkin Den Bagus. Untuk urusan Sholat, sumbernya dari Kitab Safin dan Bidayatul Hidayah.

Untuk kereta jarak dekat, ya menyesuaikan saja.
–Jangan Sampai urusan seperti ini ‘Nyeliliti’ di Akhirat-
Semoga Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.


Tambahan: 
Dari Mas Afief Pratik:  "gmpang kok mas don,, masuk ke gerbong retorasi, disamping dapur ada space kecil cukup utk solat berdiri.. Ijin aja sama mas2 yg jaga, pasti boleh."

Dan dari Mbak Anindya Gita: " iya..dulu pernah juga naik argo bromo jakarta-surabaya. sholatnya di ruang restorasi. cuman aq sendiri yang sholat disitu. tapi gak papa... bs berdiri alhamdulillah. yang jelas berusaha semaksimal mungkin dalam sholat. kalau bisa sholat dengan berdiri kenapa duduk?"

Sholat di KRL


Menyasati Waktu Sholat ketika di KRL 

Ketika perjalanan Pulang kerja yang sudah Sore, menjelang Magrib, atau sudah Magrib baru KRL jalan, musti menyiasati Waktu Sholat Magrib.
Misalnya, tujuan Serpong (Tangerang) dari Tanah Abang (Jakarta), lihat waktu. Jika waktu tidak mencapai atau bahasa jawanya ‘Gak Nyandak’, Gak Nuntut’, turun di Stasiun Pondok Ranji. Ke mushola Stasiun. Sholat Maghrib. Kalau KRL telat, turun di Palmerah Sholat Magriblah. Jika Waktu Magrib sudah memanggilmu ketika kau baru tiba di Stasiun Tanah Abang. Sholatlah Magrib.

“Beli tiketnya? Jadwal Keberangkatan Mas Don? “
Kau lebih pintar dariku Den Bagus.
Toh, ketika jam – jam pulang kerja itu bisa 15 menit sekali ada KRL. Bisa setengah jam sekali ada KRL.
“Kalau di Jama Qoshor Mas Don?”
Tidak Boleh. Karena tidak memenuhi syarat – syarat Jama’ Qoshor. (Lihat syarat2 Jama’ Qoshor).
Itu bukan keadaan darurat. Karena dilakukan Setiap hari.
Harus mensiasati waktu. Tidak ada pilihan lain Den Bagus.

“Kalau sholat di atas KRL Mas Don? Sambil berdiri, ruku dan sujudnya pakai isyarat.”
Sholat apa itu? Tidak boleh. Itu dosa. Karena pilihan untuk sholat di stasiun keberangkatan, stasiun tengah – tengah, atau sholat di stasiun tujuan ada. Jadi gunakanalah itu.

Ada 3 tipe orang dalam menyikapi kasus di atas. Tipe pertama adalah orang yang mensiasati waktu yang sudah dicontohkan di atas. Tipe kedua adalah orang yang TIDAK SHOLAT karena lebih memilih mengejar kereta jam keberangkatan terdekat supaya cepat sampai rumah. Iya, ada orang seperti itu. Maka orang yang seperti ini berdosa.
Tipe ketiga, Magrib an di mushola masjid sekitar stasiun. Sambil istirahat sambil makan. Sambil nunggu sepi Sambil nunggu waktu isha sekalian sholat isha. Setelah itu baru pulang ke stasiun yang dituju.
Begitu juga sholat Subuh Den Bagus.
-Obrolan ini saya posting lagi-

“Berarti besok malam tentang ‘Kereta Malam’ Mas Don?”
Bukan kereta malam. Itu lak judul Lagu. Haha...
InshaaAllo esok malam tentang ‘Sholat di Kereta Malam’.

Sumber: Kitab Fatkhul Qorib
Semoga Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.