Senin, 19 Mei 2014

Bab Qodho Puasa


“Mas Don, apa boleh puasa Qodho Romadhon bersamaan dengan puasa senin-kamis?”
Tidak Boleh Den Bagus. Tidak boleh menyatukan puasa wajib dengan puasa sunnah. Puasa qodho romadhon itu kan wajib, sedangkan puasa senin-kamis itu sunnah. Maka tidak boleh dilakukan di satu hari dengan dua niat yang salah satunya niat puasa wajib. Puasa wajibnya harus disendirikan. Dilakukan di hari tersendiri dengan nait puasa qodho romadhon.

“Mas Don, apakah boleh puasa qodhonya di hari Jum’at?”
Tidak boleh Den Bagus jika ia puasa khusus di hari Jum’at Saja. Haram Hukumnya. Kamis ia tidak puasa, jum’at puasa, sabtu tidak puasa.
Maka itu tidak boleh. Puasa hari Jum’at harus digandengankan dengan hari sebelum atau sesudahnya.

Misalnya orang puasa di hari kamis dan ia lanjutkan di hari Jum’at, maka itu boleh. Misalnya orang puasa di hari Jumat, lalu dilanjutkan puasa di hari sabtu, maka itu boleh. Dengan di hari jumatnya diniatkan akan dilanjutkan di hari sabtu.

“Sesungguhnya hari Jum’at itu adalah hari raya kamu, maka janganlah kamu berpuasa padanya, melainkan bila kamu berpuasa sebelumnya (hari kamis) atau sesudah (hari sabtu) nya”.(HR. Al-Baazar).

Dari Junadah bin Abi Umayyah ia berkata, Aku datang menemui Rasulullah SAW bersama beberapa orang dari suku al-Azdi pada hari Jum'at. Rasulullah SAW mengundang kami makan bersamanya. Kami berkata, "Sesungguhnya kami sedang berpuasa." Rasul bertanya, "Apakah kemarin kalian berpuasa?""Tidak!" jawab kami. "Apakah kalian akan berpuasa besok?" tanya beliau lagi. "Tidak!" jawab kami. Rasul berkata, "Kalau begitu berbukalah kalian" Kemudian beliau berkata, "Janganlah berpuasa pada hari Jum'at secara terpisah," HR Al-Hakim)

“Kalau selama ini puasa qodho romadhonnya banyak di hari jum’at saja Mas Don?”
Harus diulang Den Bagus.

Tetapi, jika hari Jum’at itu bertepatan dengan hari Arofah atau yang sama dengan itu, maka hukumnya menjadi sunnah, demikian menurut jumhur ulama. Dan, jika hari jum’at itu bertepatan dengan puasa daudnya seseorang, maka ia tetap boleh puasa.

“Apakah puasa sunnah itu perlu diqodho Mas Don? Misal puasa tarwiyah, arofah.”
Tidak diqodho, jika orang itu terlewat puasa sunnah, maka terlewat pula keutamaan puasa sunnah dari orang itu. Artinya, ia tidak mendapatkan keutamaan puasa sunnah itu Den Bagus.

Dan, sebaiknya qodho romadhon adalah disegerakan Den Bagus.

“Mas Don, kalau kita belum sempat qodho puasa, atau belum sepenuhnya hutang puasa kita diqodho, lalu sudah datang puasa romadhon lagi. Bagaimana Mas Don?”

Orang itu tetap mempunyai kewajiban qodho setelah puasa romadhon yang baru itu dan wajib membayar kafarat. Kafarat bagi orang yang seperti itu adalah sebesar 1 mud makanan pokok. Jika mengikuti pendapat jumhur, maka satu mud dalam gram kurang lebih adalah 544 gram. Ada juga pendapat 675 gram. Jika di daerah itu orang umumnya makan beras, maka beras. Jika di pegunungan yang umumnya makan jagung, maka sesuai kaidah keumuman di daerah setempat.

Jumhur ulama (4 Madzhab - Maliki, Hanbali, Hanafi, Syafi'i) berpendapat bahwa selain mengqodha diapun harus mengeluarkan kafarat berupa memberi seorang miskin untuk setiap hari puasa yang belum dia qadha. Hal ini didasari pada riwayat Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Abu Hurairah dalam masalah ini.
"Apabila tanggungan qadha puasa masih tetap (belum dipenuhi) hingga datangnya bulan puasa berikutnya maka dia wajib membayar kafarat.
(HR Baihaqi).
Semgoa Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.
Wassalamu’alaykum wr wb.

Bab Qodho Sholat


"Kalau kita mau mengqodho sholat dhuhur, ashar, magrib bagaimana?”
Kerjakan sholat yang pertama ditingalkan terlebih dahulu. Dalam kasusmu Den Bagus, maka kerjakan dhuhur lalu ashar lalu kemudian magrib.
“Qodho sholatnya sesuai waktu sholatnya apa bebas Mas Don?”
Boleh sesuai waktu sholatnya, misal qodho dhuhur di waktu sholat dhuhur. Qodho ashar di waktu sholat ashar, qodho magrib di waktu sholat magrib. Dan boleh juga tidak sesuai waktunya. Misal, qodho sholat dhuhur, ashar, magrib di waktu isha. Baik hari itu ataupun hari esoknya.
Tapi yang lebih baik adalah menyegerakan mengerjakan qodho Den Bagus.

Qodho ini sesuai sholat yang ditinggalkan. Tidak boleh diqoshor atau diringkas yang mana 4 roka’at menjadi 2 roka’at. Tidak boleh dan Tidak sah.

Jabir bin Abdullah ra.meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra. pernah datang pada hari (peperangan) Khandaq setelah matahari terbenam. Dia mencela orang kafir Quraisy, kemudian berkata; ‘Wahai Rasulallah, aku masih melakukan sholat Ashar hingga (ketika itu) matahari hampir terbenam’. Maka Rasulallah saw. menjawab : ‘Demi Allah aku tidak (belum) melakukan sholat Ashar itu’. Lalu kami berdiri (dan pergi) ke Bith-han. Beliau saw. Berwudu untuk (melaksanakan) sholat dan kami pun berwudu untuk melakukannya. Beliau saw (melakukan) sholat Ashar setelah matahari terbenam. Kemudian setelah itu beliau saw. melaksanakan sholat Maghrib. (HR.Bukhori).

Hadist dari Imam Bukhori dari Anas R.a, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda ”Barang Siapa lupa tidak sholat, hendaklah dia mengerjakannya ketika teringat. Tidak ada kafarat baginya kecuali itu”.

“Mas Don, kalau qodho sholat yang ditinggalkan sebulan yang lalu atau setahun yang lalu bagaimana?”
Sama saja Den Bagus, kerjakan qodho sholat seperti yang kita bahas di atas.

“Niat qodhonya apakah dilafaldkan Mas Don?”
Tidak perlu. Niatlah seperti biasa. Misalnya qodho dhuhur, baik di waktu dhuhur atau di lain waktu dhuhur, ya niatnya biasanya saja.
'Usholli fardlo dzuhri arba’a roka’atin...dst'
Tidak perlu dilafaldkan qodho atau tidak. Karena niatnya sudah qodho dan itu sudah dihitung sebagai qodho sholat.

Dan, sholat yang ditinggalkan karena sengaja, lupa, ata ketiduran, tetap wajib qodo. Lalu orang yang sengaja meninggalkan sholat, maka ia berdosa dan ia tetap wajib mengqodhonya.
Semoga Bermanfaat.
Sumber: Kitab Fatkhul Qorib dan Kitab Fatkhul Bari.

Salam hangat dari Mas Don.
Wassalamu’alaykum wr wb,

Duduk Tasyahud dan Bacaan Tasyahud Makmum Masbuk


“Mas Don, ketika makmum masbuk, Imam sudah duduk takhiyat akhir, makmum seharusnya duduknya bagaimana? 
Seperti duduk tasyahud awal, apa duduknya sama dengan imam tasyahud akhir?” Lebih disunnahkan duduk seperti duduk tasyahud awal yakni duduk iftirosy, makmum masbuk duduk di atas telapak kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (mancal lantai) Den Bagus.

“Berarti kalau menyamai imam yang duduk tasyahud akhir, lalu setelah imam salam, makmum masbuk bangkit lagi untuk menggenapi roka’at yang tertingal tidak apa – apa ya Mas Don?”

“Tidak apa – apa. Seperti yang ada di kitab Majmu’ karya imam Nawawi, maka yang seperti itu juga boleh. Tapi ya itu tadi, lebih disunnahkan ia duduknya tayahud awal.

Yang menjadi patokan duduknya makmum masbuk adalah sholatnya makmum masbuk, bukan sholat imamnya. Adapun hadits “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti,” ini berlaku untuk mengikuti imam dalam hal yang zhohir. Hal zhohir yang dimaksud di sini adalah bahwa, bila Imam duduk, makmum juga harus duduk bersama imam. Adapun cara duduk imam (iftirasy atau tawarruk) tidaklah tercakup ke dalam lingkup hadits.

“Lalu, bagaimana dengan bacaannya Mas Don?”
Ketika imam tasyahud akhir, maka bacaan kita juga bacaan tasyahud akhir Den Bagus. Meskipun menurut kita sebagai makmum masbuk, itu bukan roka’at terakhir. Lalu setelah salam ya bangkit lagi untuk menggenapi roka’at yang kurang.

Dan di roka’at terakhir bagi makmum masbuk, ketika duduk tasyahud akhir, maka makmum masbuk membaca bacaan tasyahud akhir juga.
Ia tetap membaca tasyahud akhir. Hanya saja posisi duduknya duduk tasyahud awal, karena duduk tasyahud akhir hanya disunnahkan dalam duduk terakhirnya makmum masbuk, sedang duduknya makmum masbuk saat itu bukan duduknya yang terakhir. Jadi makmum masbuk itu tidak hanya duduk lantas diam namun dia membaca sebagaimana bacaan imamnya.

“Dua kali berarti Mas Don?”
Iya Den Bagus.
Intinya Den Bagus, apa yang kita lakukan setelah imam salam adalah bagian akhir dari shalat kita.

“Berarti Mas Don, misal sholat fardhu 4 roka’at (Dzuhur, Ashar, Isha), jika kita tertinggal 3 roka’at dan han ya mendapat 1 roka’at bersama imam, setelah imam salam kita bangkit lagi. Ketika kita mendapat 1 roka’at setelah bangkit lagi, kita duduk tasyahud awal. Lalu bangkit lagi untuk 2 roka’at, lalu tasyahud akhir ya Mas Don?”

Iya Den Bagus. Sampean lakukan seperti yang biasa sampean lakukan di tiga roka’at terakhir, artinya tetap tasyahud awal di rakaat kedua.
Dan juga Rosulullah SAW hanya mencontohkan duduk tasyahud akhir hanya pada roka’at terakhir saja.

“Kalau ketika subuh bagaimana Mas Don? Kan ada Qunutnya Mas Don.”

Ketika masbuk subuh, makmum hanya dapat 1 roka’at bersama imam, makmum itu juga mengikuti qunut subuh imam, lalu setelah imam salam ia bangkit dan menggenapkan roka’at dan ketika menggenapkan roka’at itu, roka’at yang kedua bagi si makmum masbuk, maka ia juga berqunut lagi. Tetap qunur di roka’at kedua sholat subuh. Kuulangi lagi Den Bagus, intinya, apa yang kita lakukan setelah imam salam adalah bagian akhir dari sholat kita.

“Dua kali qunut Mas Don kalau kasusnya seperti itu?”
Iya Den Bagus. Jika lupa tidak berqunut di roka’at kedua, maka ia sujud syahwi sebelum salam.
Sumber: Kitab Safinatunnajah dan Kitab Majmu’.
Semoga Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.
Wassalamu’alaykum wr wb.

Imsak itu masih Waktu Sholat Tahajud


“Mas Don, ketika imsak, apakah masih boleh sholat Tahajud?”
Boleh sholat tahajud ketika imsak, karena imsak adalah masih waktunya sholat tahajud. Waktu sholat tahajud adalah setelah isha sampai sebelum adzan subuh dengan syarat orang yang melakukannya tidur malam terlebih dahulu. Dan, waktu yang paling afdhol sholat tahajud adalah mulainya sepertiga malam terakhir.

“Ketika bangun saat imsak, berarti akan lebih baik sholat tahajud ya Mas Don?”
Akan lebih baik Den Bagus. Ya sambil menunggu subuh. Maka tunaikanlah sholat tahajud jika sampean mau mendapatkan kesunnahan tahajud ketika bangun saat imsak Den Bagus. Jika bangunmu sebelum itu, malah tambah bagus.

“Lalu kenapa ada imsak Mas Don?”
Ini kaitannya dengan puasa Den Bagus, supaya seorang muslim mengetahui kapan waktu subuh datang. Karena jika sudah subuh, maka wajib mulai menahan dari segala yang membatalkan puasa. Lalu membantu kita untuk mengukur waktu yang kita perlukan untuk sahur. Dan tentu saja kehati – hatian dalam sahur. Ya bayangkan saja kalau tidak ada imsak, tiba – tiba langsung adzan subuh, kaget kita ketika makan sahur. Imsak adalah dalam rangka memudahkan kita dalam menjalankan sahur dan Ibadah Puasa. Sedangkan imsak hubungannya dengan sholat tahajud, maka itu adalah masih waktu tahajud.

“Berapa lama waktu imsak Mas Don?”
Lamanya sekitar jika 50 ayat yang dibaca dengan kelajuan sedang Den Bagus.
“Batasan sholat tahajud itu berapa roka’at Mas Don?”
Tidak ada batasan Den Bagus. Minimal adalah dua roka’at dengan satu salam. Maksimal berapa roka'atnya ya semampunya sampean. Asal dikerjakan dengan tiap dua roka'at dengan satu salam.

“Mas Don, kalau kita sholat tahajud, lalu di tengah – tengah sholat, adzan subuh berkumandang, lalu harus bagaimana?”
Teruskan sholat tahajudmu, sholat tahajudmu tetap sah. Yang penting niat dan takbirotul ikhromnya masih di waktu tahajud.
Sumber: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah dan Rahmah al-Ummah Fi Ikhtilafal A’immah (Fiqih 4 Madzhab).
Dan obrolan ini mengambil Madzhab Imam Syafi’i.

Semoga Bermanfaat.
Salam hangat, dari Mas Don.
Wassalamu'alaykum wr wb...

Makmum Membaca Apa ketika Imam Membaca Al-Fatihah?


Makmum mendengarkan bacaan Al-Fatihah Imam Den Bagus. 
Sampai ketika ‘Aamiin’, barulah setelah itu makmum membaca Al-Fatihah. Ketika itu imam membaca Surat Pendek. Jika makmum sudah selesai membaca Surat Al-Fatihah, Imam masih membaca Surat Pendek, maka makmum mendengarkan bacaan surat pendek Imam. Itu yang lebih utama.

“Kalau bacaan do’a Iftitah bagaimana Mas Don?”
Ketika imam takbirotul ikhrom, maka takbirotul ikhromlah. Sebelum imam membaca Al-Fatihah, sampean bisa membaca do’a Iftitah. Itu Sunnah. Jika imam sudah membaca Al-Fatihah, sampean baru membaca do’a Iftitah, itu Makruh hukumnya.

Maka, jika imam sudah membaca Al-Fatihah, dengarkanlah.
Jika setelah takbirotul ikrhom imam diam, ia memberi jeda antara takbirotul ikhrom dan Al-Fatihah, maka sampean membacalah Do’a Iftitah.
Sampean mendapat kesunnahan.
Bacalah do’a iftitah sebelum imam membaca Al-Fatihah.

Ketika imam membaca Al-Fatihah, do’a iftitah sampean kok belum selesai, maka selesaikanlah meskipun imam masih membaca Al-Fatihah. Lalu setelah selesai, dengarkanlah bacaan Al-Fatihah Imam. Ini untuk sholat magrib, isha, subuh.

Makanya, jangan mengakhir – akhirkan takbirotul ikhrom Den Bagus. Begitu imam takbirotul ikhrom, asal sampean sudah Usholli dst, maka takbirotul ikhromlah bersamaan dengan niat sholat.
Dan jika sampean jadi Imam, bacalah juga do’a iftitah Den Bagus, supaya makmum punya waktu untuk membacanya pula.

"Lalu, Untuk Sholat dhuhur dan Ashar bagaimana Mas Don?"
Ya sampean baca semuanya Den Bagus. Kalau imam cepat, ya sampean menyesuaikan saja. Jika sampean membaca do’a iftitah, maka Al-Fatihah harus dibaca lengkap sampai selesai karena sebelum rukun ada bacaan sunnah terlebih dulu yang sampean baca (do’a Iftitah).

Jika ketika sampean membaca surat pendek belum selesai, imam sudah ruku’, ya sampean ikuti ruku’. Surat pendek tidak selesai tidak apa – apa.

“Sholat Sunnah yang cepat, misal Traweh. Bagaimana?”
Jika imam bacaannya cepat, sampean takut tidak cukup membaca Al-Fatihah, atau sampean takut bacaan Al-Fatihah sampean rusak dan tidak sempurna karena cepatnya akan ruku', maka sampean boleh membaca Al-Fatihah ketika imam sholat traweh membaca Al-Fatihah juga.
Jika sholat sunnah kelajuannya biasa – biasa saja, maka seperti yang pertama obrolan kita tadi Den Bagus. Cepat lambatnya memakai adat kebiasaan setempat.
“Iya Mas Don.”
Sumber: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah dan Rahmah al-Ummah Fi Ikhtilafal A’immah (Fiqih 4 Madzhab).
Dan Obrolan ini mengambil Madzhab Syafi’i.

Salam Hangat, dari Mas Don.
Wassalamu’alaykum wr wb.

Bab Talak


Ada ilmu yang wajib diketahui untuk dilaksanakan, misal Ilmu Sholat, Zakat, Puasa, dll.
Ada juga ilmu yang wajib diketahui untuk dijauhi/tidak dilakukan, misal Zina, Maksiat, Khomer, Talak, dll.

“Kenapa talak juga Mas Don?” Karena perceraian itu hukum awalnya boleh, tapi adalah sesuatu yang tidak disukai Alloh. Makanya ya harus ada ilmunya.

Talak itu ada 3. Talak 1, talak 2, dan talak 3.
Jatuhnya talak adalah dari suami. Untuk mencapai talak 2, harus talak 1 dulu. Untuk mencapai talak 3, harus talak 1 dan 2 dulu. Tidak boleh langsung talak 2 atau langsung talak 3. Jika talak 1,2,dan 3 dijatuhkan dalam satu waktu, maka hukumnya Haram, tapi talaknya sah.

Jika seorang suami sudah menalak isterinya, maka ada masa iddah. Yaitu massa menunggu. Saat wanita bercerai dengan suaminya tanpa dalam keadaan hamil, maka masa Iddahnya selama 3x suci. Perempuan-perempuan yang di ceraikan suaminya hendaklah menahan diri mereka selama 3x suci. (Lihat Al-baqarah: 228)

Ketika bercerai dalam keadaan suci, maka Iddahnya akan berakhir saat haid yang ke tiga kalinya. Jadi setelah haid ketiga kali itu, maka sudah boleh menikah dengan orang lain.
Sedangkan Iddah wanita yang ditinggal mati suaminya ialah selama 4 bulan 10 hari. (Lihat Al-Baqarah:234).

Ketika talak 1 dan 2. Jika suami ingin rujuk dengan isteri ketika masa iddah, maka itu boleh. Langsung rujuk saja dengan kata – kata jelas menginginkan rujuk. DAN HARUS ADA SAKSINYA. Jika ingin rujuk tapi lebih dari masa iddah, maka suami isteri itu harus melakukan Ijab Qobul lagi dengan adanya Mas Kawin.
Ketentuan ini untuk talak 1 maupun talak 2.

Sedangkan untuk talak 3, masih ada masa iddahnya yaitu sama dengan masa iddah talak1 dan 2. Jika suami ingin rujuk dengan isteri atau sebaliknya di masa iddah talak 3, maka tinggal rujuk saja dan harus ada saksinya. Hanya saja di talak 3, ketika sudah lewat masa iddah jika suami isteri ingin rujuk, maka si isteri harus menikah dengan laki – laki lain dan si isteri harus berhubungan suami isteri dengan suami yang baru. Jika isteri dan suami yang baru itu kemudian bercerai, maka isteri baru boleh dinikahi lagi oleh suami yang lama. Ijab Qobul lagi dan ada Mas Kawin lagi.

Paham Den Bagus? Yang talak 3 ini beda.
“InshaaAlloh Mas Don”.

“Bagaimana Kata – kata menalak? Apakah ‘saya talak 1 kamu’, saya talak 2 kamu’, saya talak 3’ kamu?”
Boleh begitu, boleh hanya ‘Saya talak kamu’. Jika dia pertama kali mengucapkan, maka itu talak 1. Jika dia sudah mengucapkan 2 kali, maka talak 2. Jika ia sudah mengucapkan itu 3 kali, maka talak 3.

Jika katanya jelas, misal “Aku menalakmu”, “Engkau tertalak," atau "Saya ceraikan engkau." kalimat yang terang ini tidak perlu dngan niat. Berarti apabila dikatakan oleh suami, berniat atau tidak berniat, talak jatuh dan keduanya harus bercerai.

Jika KALIMAT SINDIRAN, yaitu kalimat yg mash ragu - ragu, boleh diartikan untuk perceraian nikah atau yang lain, seperti kata suami, "Pulanglah engkau kerumah Orangtuamu", atau "Pergilah dari sini," dll. Kalimat sindiran ini bergantung pada niat, artinya "kalau tidak diniatkan untuk perceraian nikah, tidaklah jatuh talak. Kalau diniatkam untuk menjatuhkan talak barulah menjadi talak." Ketika kalimat sindiran ini, maka isteri harus menanyakan kepada suami apakah ada niat talak atau tidak.

Segala kalimat sindiran adalah butuh niat. Jika dari suami ada niat talak dengan kalimat sindiran itu, maka jatuh talak. Jika tidak, maka tidak talak. Berarti tinggal memperbaiki apa yang sudah rusak di rumah tangga itu.
Kata – kata serius atau bercanda, maka hukum tetap jatuh. Karena hukum tidak melihat unsur bercanda atau bermain – main. Jika suami bercanda bilang talak, maka jatuh talak.

“Bagaimana talak yang dijatuhkan tidak langsung ke orangnya? Misal via SMS, internet, Chat, via orang lain?”
Jika Isi SMS jelas ada kalimat talak/cerai, maka jatuh talak. Jika sindiran dan ada niat talak dari seorang suami yang mengirim SMS maka jatuh talak. Jika sindiran tapi tidak ada niat, talak tidak jatuh.

“Apakah seorang perempuan yang masa iddah boleh dinikahi orang lain?”
Tidak boleh. HARAM dinikahi. Tunggu saja sampai masa iddahnya selesai. Berapapun talaknya. Lamaran di waktu masa iddah perempuan juga tidak boleh. Yang boleh hanya sebatas mengungkapkan ingin menikahinya. Kalau sampai pada lamaran, tidak boleh. Apalagi sampai tahap menikah.

“Apakah perempuan yang masa iddah boleh keluar dari rumahnya sendiri atau dari rumah orang tuanya?”
Tidak boleh keluar rumah sembarangan. Hanya urusan – urusan wajib. Misal, bekerja dll. Selain itu tidak boleh keluar rumah sembarangan. Harus ada yang menemani.

“Selama iddah, apakah suami tetap menafkahi isteri Mas Don?”
YOI lah Den Bagus, selama istri masih menjalani iddah maka suami masih berkewajiban memberi nafkah sandang pangan karena masih dalam kekuasaan suami.

“Selama masa iddah, apakah boleh berhubungan badan dengan suami?”
Tidak boleh. Harus rujuk dulu baru boleh berhubungan badan dengan suami.

Seorang suami dilarang mentalak istrinya ketika sedang haid.
Sumber: Kitab Fatkhul Muin dan Fiqih 4 Madzhab.
Tulisan ini mengambil Madzhab Syafi’i.

Semoga bermanfaat.
Salam Hangat, dari Mas Don.

Air Mani keluar bersama Air Madzi


“Seorang laki-laki kadang mengeluarkan madzi, wadi dan mani,karena dorongan nafsu,karena kelelahan, maupun hubungan seksual Mas Don. Ketiganya biasa keluar tidak bersamaan atau beriringan. 
Lalu bagaimana hukum air madzi yang keluar didalam kemaluan wanita, yang tentunya nanti bercampur dengan mani suami ketika melakukan hubungan suami isteri?”

Madzi tetap dihukumi najis akan tetapi madzi yang mengenai kemaluan suami atau isteri disaat melakukan hubungan suami isteri di ma’fu (termaafkan) karena termasuk sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Juga perlu diketahui bahwa telah bisa dipastikan tidak ada ketercampuran antara madzi dengan mani dalam proses pembuahan sehingga mani yang masuk kedalam rahim benar- benar tidak bercampur dengan benda najis. Semua anak yang lahir adalah suci.

“Berarti Mas Don, ketika seorang laki – laki mimpi basah keluar mani, memang maninya adalah suci, tapi di situ juga ada campuran madzi, maka tetap harus ganti celana dalam ya Mas Don?”

Kalau mimpi basahnya setengah sadar dari tidur, itu cenderung hanya mani saja Den Bagus. Tapi lebih amannya, ya dilihat ciri – cirinya seperti yang sudah dibahas di Bab 1. Kalau ciri – cirinya mani saja ya mani. Mandi besar. Boleh tidak ganti celana dalam kalau mau sholat. Karena mani suci. Dipakai sholat tetap sah. Tapi orang – orang pasti merasa aneh. Ya siapa tahu pas tidak punya celana lagi.

Lalu jika yang keluar ada ciri – ciri madzi, ya mandi wajib dan celananya harus ganti. Karena itu mengandung barang najis Den Bagus.

Kalau bangun tidur tiba – tiba sudah ada cairan, tinggal dilihat saja masuk kirteria mani saja atau madzi saja atau keduanya yang bercampur.

“Mas Don, apakah boleh menelan mani?”
Tidak boleh, karena ketika itu pasti ada syahwat. Dan ketika syahwat ada madzi yang keluar. Itu barang najis. Madzi yang tercampur mani tidak boleh ditelan karena ada barang najis. Untuk mengetahui itu mani saja atau tidak pastilah sulit. Jadi tidak boleh ditelan.
Memang mani adalah barang suci, tapi peruntukannya bukan untuk ditelan. Jadi ya dimuntahkan. Terlebih untuk jaga – jaga kalau di dalamnya ada campuran madzi.
“Kalau saumi memaksa bagaimana Mas Don?”
Eh, Mbak Ayu. Ya jangan dituruti. Karena di situ ada syahwat dan keluar madzi yang barang najis.
Sumber: Kitab Fatkhul Mu’in, Kitab Fatkhul Qorib, dan Bahtsul Masail NU

Semoga Bermanfaat.
Salam Hangat, dari Mas Don.
Wassalamu'alaykum wr wb.

Bab Mani dan Madzi (Laki – laki dan Perempuan)


“Mas Don, mani itu apa najis?”
Tidak Den Bagus. Mani itu suci. 
Mani adalah cairan putih yang keluar dengan tersendat-sendat disertai syahwat serta menyebabkan loyo/lemes setelah keluarnya.
Hukumnya suci dan WAJIB mandi dengan niat mandi untuk menghilangkan hadas besar.

“Ciri-ciri mani itu seperti apa Mas Don?”
Ada 3 Den Bagus,
- keluar disertai syahwat (kenikmatan).
- keluar dengan tersendat-sendat.
- jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur.

Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, maka disebut mani.
Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan.

“Perempuan juga Mas Don?” Eh, ada Mbak Ayu. Iya, perempuan juga.

Lalu selanjutnya adalah Madzi.
Madzi adalah cairan putih lembut dan licin keluar pada permulaan bergejolaknya syahwat. Istilah madzi untuk laki-laki, namun jika keluar dari perempuan dinamakan QUDZA.

Hukumnya najis dan membatalkan wudhu tapi tidak wajib mandi. Sebelum wudlu, maka harus dibersihkan kemaluannya dan harus ganti celana dalam karena madzi/qudza adalah najis yang menempel pada celana/celana dalam. Maka harus ganti. Setelah dibersihkan dan ganti, barulah wudlu. Dan sholat/membaca Al-Qur’an. Tidak wajib mandi.

“Mas Don, ada juga itu namanya wadi. Apa itu Mas Don?”
Itu adalah cairan putih keruh dan kental, keluar setelah melaksanakan kencing atau ketika mengangkat beban berat.
Hukumnya seperti madzi/qudza, yaitu najis dan membatalkan wudhu’ tapi tidak wajib mandi.

Sama dengan madzi/qudza, yaitu kelamin dibersihkan, dan ganti celana/celana dalam. Lalu wudlu seperti biasa.
Jika cairan keluar mengandung salah satu ciri-ciri mani, maka dihukumi mani. Namun jika tidak ada dan keluarnya pada mulai gejolaknya syahwat atau sesudah syahwat, maka dihukumi madzi.

“Jika ragu yang keluar mani atau madzi Mas Don?”
Maka boleh memilih antara menjadikannya mani sehingga wajib mandi, atau menjadikannya madzi sehingga hukumnya najis, tidak wajib mandi namun batal wudhu’nya. Paling afdholnya menggabung keduanya yaitu mandi untuk menghilangkan hadas besar dan menyucikan tempat yang terkena cairan tersebut. Kalau saya, memilih yang terberat untuk kehati – hatian Den Bagus. Yaitu mandi untuk menghilangkan hadas besar serta membersihkannya.

Perempuan juga mengeluarkan mani dengan ciri-ciri sebagaimana di atas. Namun menurut Imam Ghozali, mani wanita hanya bercirikan keluar disertai syahwat (kenikmatan).

“Kita kok bahas beginian Mas Don? Apa nanti kata orang?”
Lha yang begini ini penting Den Bagus. Kata orang itu kan tetap kata orang. Apa hubungannya dengan kita? Lha wong gak ada hubungannya.
Sumber: Kitab Fatkhul Mu’in dan Kitab Fatkhul Qorib
serta Pustaka Ilmu Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Semoga Bermanfaat.
Sudah masuk dhuhur untuk Jakarta dan Sekitarnya, Jangan Lupa Sholat di awal waktu yang lebih utama.

Salam Hangat, dari Mas Don.
Wassalamu’alaykum wr wb.

Apa yang Sebaiknya dilakukan Setelah Sholat Tahajud?


Setelah selesai sholat tahajud, maka berdzikirlah Den Bagus sebelum berdo’a. Karena dzikir adalah pengiring do’a. Lalu berdo’alah karena sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling dekat antara Alloh dan HambaNya.

‘Waktu yang paling dekat antara Tuhan dan HambaNya adalah pada pertengahan malam yang terakhir, jika kamu mampu untuk melakukan zikir mengingat Alloh SWT pada saat itu maka lakukanlah.’ (HR. Tirmidzi).

Setelah selesai itu semua dan waktu masih cukup, maka bacalah Al-Qur’an meskipun satu ayat.
“Kenapa membaca Al-Qur’an Mas Don?”
‘Tiga orang yang dicintai oleh Alloh SWT, seseorang yang sholat malam kemudian membaca Al-Qur’an dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi – sembunyi, seolah – olah tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seorang lelaki yang berperang ketika teman – temannya berhamburan melarikan diri, ia maju menuju pertempuran’. (HR. Tirmidzi).

“Meskipun satu ayat tidak apa – apa ya Mas Don?”
Tidak apa – apa, ya nanti lama – lama juga tambah sendiri.

“Kalau setelah itu semua tidur lagi enggak apa – apa ya Mas Don, karena masih ngantuk.”
Ya tidak apa – apa asal subuh sampean bisa bangun lagi Den Bagus.
Sholat tahajud adalah sholat malam dengan syarat tidur terlebih dahulu di malam hari. Jika ada orang yang sholat tahajud tanpa tidur malam terlebih dahulu, maka sholat tahajudnya tidak sah.
Semoga Bermanfaat.

Salam Hangat, dari Mas Don.
Wassalamu’alaykum....

Dzikir Setelah Sholat Fardhu Ada yang Beda


“Bedanya di mana Mas Don?”
Di “La ilaha illalloh wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir”. 
Kalau sholat dzuhur, ashar, isha, biasanya imam memimpin dzikir melafaldkan itu sebanyak 3 kali, kalau subuh dan maghrib, dilafalkan 10 kali Den Bagus.

“Iya Mas Don, saya juga kadang merasa kalau subuh dan magrib itu terasa banyak. Makanya saya juga heran kok seperti itu. Kenapa subuh dan magrib itu 10 kali sedangkan yang lain 3 kali?”

Barangsiapa yang ketika pagi menjelang membaca ; "La ilaha illalloh wahdahu laa syarikalah yuhyi wa yumit lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai’in qodir.
(Artinya: Tidak ada Tuhan selain Alloh Dzat yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Dzat yang mematikan dan menghidupkan, bagi-Nya segala kerajaan dan pujian, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Sebanyak sepuluh kali,maka Alloh akan menuliskan sepuluh kebaikan dan menghapus sepuluh keburukan baginya dengan doa tadi. Alloh pun akan mengangkatnya sepuluh derajat. Kesepuluh kali itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh budak dan Alloh akan menjaganya dari syetan. Kesepuluh itu pula menjadi pengawal dirinya hingga sore menjelang.

Barangsiapa yang membacanya saat shalat Maghrib seusai shalat,maka akan mendapat pahala yang sama hingga subuh menjelang. ( Hadits shahih riwayat Ahmad, An-Ansai, dan Ath-Thabarani).
Kalau selain subuh dan magrib sebanyak 3 kali, itu karena rosululloh menyukai yang ganjil Den Bagus. Makanya selain itu sebanyak 3 kali.

“Kalau imam tidak melafaldkan 10 kali ketika subuh dan magrib Mas Don?”
Ya sampean bisa menambah kurangnya setelah mengamini do’a imam. Kalau sholat sendiri ya malah bisa runtut.
“Mas Don, kalau di antar masjid dzikir setelah sholatnya beda bagaimana? Ada yang menambah ayat kursi, ada yang menambah asmaul husna.”
Ya enggak apa – apa. Toh semua itu ada keutamaannya. Dan semua itu baik. Ya tidak apa – apa.

“Mas Don, kalau yang serba 33 kali itu bagaimana?”

Dari Abu Huroiroh r.a., dari Rasululloh SAW:
"Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya seratus dengan membaca:
"La ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir"
Maka diampuni Allah segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat Muslim).

Subhanallah :Tasbih | Alhamdulillah : Tahmid | Allohuakbar : Takbir
La ilaha illallah wahdahu la syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir : Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya adalah semua kerajaan dan puji-pujian dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ada juga yang ditambahi: ‘yuhyi wayumitu’ setelah ‘wa lahul hamdu’. Maka itu juga boleh.

Ini bukan kewajiban, ini adalah yang diutamakan. Pun ngoten mawon nggih. Mugi bermanaat.
Sebelum obrolan kita ditutup, kita istighfar sama – sama Den Bagus.
“Iya Mas Don”
Astaghfirullah robbal baroya.
Astaghfirullah minal khothoya.

Salam Hangat, dari Mas Don.