Senin, 19 Mei 2014

Bab Talak


Ada ilmu yang wajib diketahui untuk dilaksanakan, misal Ilmu Sholat, Zakat, Puasa, dll.
Ada juga ilmu yang wajib diketahui untuk dijauhi/tidak dilakukan, misal Zina, Maksiat, Khomer, Talak, dll.

“Kenapa talak juga Mas Don?” Karena perceraian itu hukum awalnya boleh, tapi adalah sesuatu yang tidak disukai Alloh. Makanya ya harus ada ilmunya.

Talak itu ada 3. Talak 1, talak 2, dan talak 3.
Jatuhnya talak adalah dari suami. Untuk mencapai talak 2, harus talak 1 dulu. Untuk mencapai talak 3, harus talak 1 dan 2 dulu. Tidak boleh langsung talak 2 atau langsung talak 3. Jika talak 1,2,dan 3 dijatuhkan dalam satu waktu, maka hukumnya Haram, tapi talaknya sah.

Jika seorang suami sudah menalak isterinya, maka ada masa iddah. Yaitu massa menunggu. Saat wanita bercerai dengan suaminya tanpa dalam keadaan hamil, maka masa Iddahnya selama 3x suci. Perempuan-perempuan yang di ceraikan suaminya hendaklah menahan diri mereka selama 3x suci. (Lihat Al-baqarah: 228)

Ketika bercerai dalam keadaan suci, maka Iddahnya akan berakhir saat haid yang ke tiga kalinya. Jadi setelah haid ketiga kali itu, maka sudah boleh menikah dengan orang lain.
Sedangkan Iddah wanita yang ditinggal mati suaminya ialah selama 4 bulan 10 hari. (Lihat Al-Baqarah:234).

Ketika talak 1 dan 2. Jika suami ingin rujuk dengan isteri ketika masa iddah, maka itu boleh. Langsung rujuk saja dengan kata – kata jelas menginginkan rujuk. DAN HARUS ADA SAKSINYA. Jika ingin rujuk tapi lebih dari masa iddah, maka suami isteri itu harus melakukan Ijab Qobul lagi dengan adanya Mas Kawin.
Ketentuan ini untuk talak 1 maupun talak 2.

Sedangkan untuk talak 3, masih ada masa iddahnya yaitu sama dengan masa iddah talak1 dan 2. Jika suami ingin rujuk dengan isteri atau sebaliknya di masa iddah talak 3, maka tinggal rujuk saja dan harus ada saksinya. Hanya saja di talak 3, ketika sudah lewat masa iddah jika suami isteri ingin rujuk, maka si isteri harus menikah dengan laki – laki lain dan si isteri harus berhubungan suami isteri dengan suami yang baru. Jika isteri dan suami yang baru itu kemudian bercerai, maka isteri baru boleh dinikahi lagi oleh suami yang lama. Ijab Qobul lagi dan ada Mas Kawin lagi.

Paham Den Bagus? Yang talak 3 ini beda.
“InshaaAlloh Mas Don”.

“Bagaimana Kata – kata menalak? Apakah ‘saya talak 1 kamu’, saya talak 2 kamu’, saya talak 3’ kamu?”
Boleh begitu, boleh hanya ‘Saya talak kamu’. Jika dia pertama kali mengucapkan, maka itu talak 1. Jika dia sudah mengucapkan 2 kali, maka talak 2. Jika ia sudah mengucapkan itu 3 kali, maka talak 3.

Jika katanya jelas, misal “Aku menalakmu”, “Engkau tertalak," atau "Saya ceraikan engkau." kalimat yang terang ini tidak perlu dngan niat. Berarti apabila dikatakan oleh suami, berniat atau tidak berniat, talak jatuh dan keduanya harus bercerai.

Jika KALIMAT SINDIRAN, yaitu kalimat yg mash ragu - ragu, boleh diartikan untuk perceraian nikah atau yang lain, seperti kata suami, "Pulanglah engkau kerumah Orangtuamu", atau "Pergilah dari sini," dll. Kalimat sindiran ini bergantung pada niat, artinya "kalau tidak diniatkan untuk perceraian nikah, tidaklah jatuh talak. Kalau diniatkam untuk menjatuhkan talak barulah menjadi talak." Ketika kalimat sindiran ini, maka isteri harus menanyakan kepada suami apakah ada niat talak atau tidak.

Segala kalimat sindiran adalah butuh niat. Jika dari suami ada niat talak dengan kalimat sindiran itu, maka jatuh talak. Jika tidak, maka tidak talak. Berarti tinggal memperbaiki apa yang sudah rusak di rumah tangga itu.
Kata – kata serius atau bercanda, maka hukum tetap jatuh. Karena hukum tidak melihat unsur bercanda atau bermain – main. Jika suami bercanda bilang talak, maka jatuh talak.

“Bagaimana talak yang dijatuhkan tidak langsung ke orangnya? Misal via SMS, internet, Chat, via orang lain?”
Jika Isi SMS jelas ada kalimat talak/cerai, maka jatuh talak. Jika sindiran dan ada niat talak dari seorang suami yang mengirim SMS maka jatuh talak. Jika sindiran tapi tidak ada niat, talak tidak jatuh.

“Apakah seorang perempuan yang masa iddah boleh dinikahi orang lain?”
Tidak boleh. HARAM dinikahi. Tunggu saja sampai masa iddahnya selesai. Berapapun talaknya. Lamaran di waktu masa iddah perempuan juga tidak boleh. Yang boleh hanya sebatas mengungkapkan ingin menikahinya. Kalau sampai pada lamaran, tidak boleh. Apalagi sampai tahap menikah.

“Apakah perempuan yang masa iddah boleh keluar dari rumahnya sendiri atau dari rumah orang tuanya?”
Tidak boleh keluar rumah sembarangan. Hanya urusan – urusan wajib. Misal, bekerja dll. Selain itu tidak boleh keluar rumah sembarangan. Harus ada yang menemani.

“Selama iddah, apakah suami tetap menafkahi isteri Mas Don?”
YOI lah Den Bagus, selama istri masih menjalani iddah maka suami masih berkewajiban memberi nafkah sandang pangan karena masih dalam kekuasaan suami.

“Selama masa iddah, apakah boleh berhubungan badan dengan suami?”
Tidak boleh. Harus rujuk dulu baru boleh berhubungan badan dengan suami.

Seorang suami dilarang mentalak istrinya ketika sedang haid.
Sumber: Kitab Fatkhul Muin dan Fiqih 4 Madzhab.
Tulisan ini mengambil Madzhab Syafi’i.

Semoga bermanfaat.
Salam Hangat, dari Mas Don.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar