Minggu, 03 April 2016

(Embuh)

Calon suami dihadapkan pada tanggung jawab yang berat setelah ijab qobul.
Jangan diperberat lagi dengan permintaan serah - serahan yang di luar batas kemampuan, besarnya mahar, glamornya pelaminan, dan berkilaunya pakaian.
Tak perlu menghiraukan kasak kusuk poro tetanggi.
Tak perlu mencari puja dan puji.
Tak perlu gengsi.
Cukup perbaiki diri.
Cukup janji suci.
Cukup baju islami.
Semoga rumah tangga diberkahi.
Untuk kawan - kawanku, yang akan melangsungkan ikatan suci, semoga lancar tanpa gangguan berarti.
Dan teruntuk diriku sendiri, semoga cepat tahu diri.

Wassalamu'alaykum, dari Mas Don.

Ibu Rumah Tangga?

Pulkam kemarin bantu - bantu ibu masak di dapur ya. Bukan sebagai pemasak utama, cuma pembantu masak.
Beberapa kali saja sudah capek, ini bagaimana letihnya kalau dilakukan saban hari, belum lagi kalau ada pekerjaan lain, belum lagi ngurus anak. Mungkin laki - laki memasak dengan otot, sedangkan perempuan memasak dengan hati. Ceileh.
Kasus KDRT seharusnya tak perlu terjadi ya jika masing - masing saling menghormati, sama paham, saling mengerti peran masing - masing. Ceileh. Ya, tulisan ini memang ditulis seorang bujang, yang belum merasakan biduk rumah tangga.
Setiap bahan masakan punya perlakuan berbeda, setiap bumbu punya karakter masing - masing, begitu juga wanita. Sampai - sampai disuruh ibu untuk membaui bumbu - bumbu. Mana kunir, mana jahe. Kalau ada anak perempuan gak bisa masak, berarti ada yang salah dengan masa mudanya.

Pulang Kampung

Selesai rapat biasanya dapat nasi kotak ya. Lauknya daging, ayam, atau lauk enak yang lain. Kalau sudah begitu, biasanya ingat istri dan anak di kontrakan.
Eh ternyata baru inget, aku belum menikah. Jiah.
Biasanya, setelah acara tertentu, dapat kue - kue. Jadi inget istri dan anak di kontrakan. Maunya dibawa pulang, gak dimakan, buat mereka saja. E ... Baru inget aku belum ijab qobul. Jiah.
Keluar makan dengan rekan. Pesen ini pesen itu. Jadi inget istri dan anak di kontrakan. E... Lha dalah, baru sadar aku belum beristri.
Pas diklat, makan prasmanan ambil sesuka hati, kalau pas begitu, ingat istri di kontrakan. Sampai di kontrakan, baru sadar kalau belum ketemu jodoh. Jiah.

"Setelah sholat, ada orang yang gak mau diajak salaman bagaimana Mas Don?"

Ya enggak apa - apa Den Bagus, jangan sakit hati.
Aku punya cerita Den. Aku sholat pada sebuah masjid. Kuposisikan tubuhku di shof pertama. Kulihat ada seorang pemuda di kananku sedang tahiyat akhir sholat qobliyah.
Sholat fardhupun didirikan. Setelah salam, pemuda tadi mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambutnya. Lalu ia mengulurkan tangannya kepada jamaah sebelahnya yang lain. Aku melihatnya, jamaah ini tidak menyambutnya Den Bagus. Tangan pemuda itu tak terbalas oleh jamah tadi. Mata jamaah tadi tidak tertutup Den, tak memejamkan mata. Melihat situasi tersebut, tangan pemuda ini dikembalikan ke posisi semula, seolah - olah akan melanjutkan dzikir.
Sholat bakdiyahpun tiba. Aku sengaja menunggunya selesai. Setelah pemuda ini berdiri, mebalik badan, melangkah, aku mencegatnya.
"Mas, tadi Masnya mengajak salaman jamaah sebelah tapi dia tidak mau ya Mas?" Tanyaku kurang lebih.
"Iya Mas," jawabnya sambil tersenyum.
"Yasudah Mas, jangan sakit hati," responku kala itu. Akupun juga tak tahu kenapa kata - kata itu keluar dari mulutku.

LDR atau Bawa Anak Istri ke Rantauan?

Malam minggu ya. Seperti biasa, paling enak ngomongin pernikahan, jiah.
Ane ini orang Jawa ya. Di Jawa itu ada pitutur "jer basuki mawa bea". Artinya untuk mencapai keberhasilan dibutuhkan pengorbanan. 
Ada lagi "mangan ra mangan, ngumpul," Makan gak makan, kumpul.
Sepertinya, yang terakhir akan kugunakan setelah menikah. Makan gak makan asal kumpul. Bersama (insyaalloh) istri dan anak - anak kelak.
Orang sepertiku ini akan kesulitan jika hidup LDR Den Bagus. 
"Opo LDR itu Mas Don?"
Lungo (pergi) Dari Rumah. Meninggalkan anak istri untuk kerja, yang pulangnya sebulan atau dua bulan sekali. Lagipula ane harus realistis, tiket Makassar - Surabaya yang murah saja Rp 400.000, pulang pergi ya x2. Belum lagi transport bandara ke kampung. Itu kalau aku dapat jodoh orang Jawa Timur. Kalau dapat jodoh Orang Jogja, Makassar - Jogja sekali jalan sejutaan. Ya mau gak mau istri dan anak - anak kubawa Den Bagus. Karena kondisi dan tipikal diriku ini.
Meskipun begitu, ada juga orang yang baik - baik saja LDRan. PJKA club. Pulang Jumat Kembali Ahad, seminggu sekali. Ada yang 2 minggu sekali, sebulan sekali nengok anak istri. Ada yang bisa seperti itu, ada yang gak bisa. Semua tergantung orangnya. Semua adalah pilihan yang baik.
Dosen ane pernah bercerita Den Bagus. Ia di tinggal dan kerja di Jakarta, anak istrinya di Jogja apa Klaten ane lupa. Di rumah Jogjanya dipasang sisi tivi. 
"CCTV kali Mas Don."
Hehe, iya Den, maklum wong ndeso.